PTPN VIII akan Konversi Karet Ke Sawit Seluas 15.000 Hektare

PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) akan mengkonversi karet ke komoditi sawit seluas 15.000 hektare

Editor: Siti Fatimah
dok PTPN VIII
Ilustrasi perkebunan karet 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) melakukan peningkatan produktivitas pengelolaan tanaman dengan mengkonversi komoditi karet menjadi komoditi sawit seluas kurang lebih 15.000 Ha atau dapat didefinisikan seluruh areal Komoditi Karet.

Hal ini sudah direncanakan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) PTPN VIII tahun 2021-2026.

Perkembangan komoditi karet di Tanah Air dalam kurun waktu 10 tahun terakhir berada dalam kondisi yang kurang menggembirakan.

Baca juga: Ini Upaya PTPN VIII dalam Penanganan dan Penyelesaian Permasalahan Pertanahan

Pertumbuhan produktivitas tanaman terhambat dengan terbatasnya ketersediaan tanaga kerja di lapangan.

Semakin bermunculan pabrikan industri di daerah kota satelit, mengakibatkan pergeseran prilaku masyarakat yang semula bekerja di Kebun menjadi lebih tertarik bekerja di pabrik.

Perubahan preferensi tempat kerja ini lebih karena faktor tempat bekerja yang lebih nyaman di dalam ruangan sehingga terkesan lebih bergengsi.

Padahal dari sisi pengupahan, bekerja di Kebun tentu lebih besar pendapatannya karena sesuai dengan aturan pengupahan yang diberlakukan oleh pemerintah pusat.

Baca juga: PTPN VIII Terapkan Program Best Practice untuk Peningkatan Produktivitas Teh

SEVP Operasional PTPN VIII, Wispramono Budiman menyatakan, kebijakan konversi Komoditi karet menjadi komoditi sawit akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan rekomendasi dalam feasibility study yang akan dibuat oleh PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN).

Perkebunan karet PTPN VIII
Perkebunan karet PTPN VIII (dok PTPN VIII)

"UntuktTahap awal akan dilakukan konversi sebesar sekitar 5000 ha karet ke sawit," katanya di Kantor PTPN VIII Bandung, Jumat (19/8/2022).

Faktor eksternal yang banyak mempengaruhi perkembangan komoditi karet adalah perkembangan harga jual yang terus menurun disertai dengan penurunan produksi karet alam di lapangan.

Faktor iklim basah yang mengiringi sepanjang tahun menjadi salah satu penghambat pencapaian produksi dan mengakibatkan juga terjadinya endemik hama penyakit tanaman.

Baca juga: Produk Lokal Kian Mendunia, PTPN VIII Ekspor Teh Walini Ke Uni Emirat Arab

Budhi Herdiyana Tresnadi, Kepala Bagian Kelapa Sawit dan Karet mengatakan, strategi korporasi down-sizing Komoditi Karet nantinya terpaksa harus dilakukan apabila harga jual tidak membaik dan produktivitas terus menurun.

"Hal ini harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi korporasi dalam pembiayaan operasional," katanya.

Komoditi karet akan sunset apabila tidak adanya perbaikan secara menyeluruh dalam pengelolaan operasional perusahaan dan sudah barang tentu harus didukung dengan regulasi yang menguntungkan untuk pengusaha karet tanah air, sehingga kebutuhan karet dalam dan luar negri dapat terpenuhi dengan harga yang wajar.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved