Aksi Mogok Makan Petani di Jatinangor Sumedang Akan Berlanjut dengan Aksi Longmarch ke Istana Negara

Pada Kamis (18/8/2022) nanti, aksi akan dilanjutkan kembali. Namun, apakah aksi mogok makan dan mogok bicara yang berlanjut atau aksli longmarch.

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Seli Andina Miranti
Istimewa/ Anggota Polsek Jatinangor, Bripka Asep Nandang.
Penggarap lahan yang melakukan aksi mogok makan dan bicara di Desa Cilayung, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, membubarkan diri, Selasa (16/8/2022) sore. 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Puluhan petani penggarap lahan pemerintah di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang lahannya tergusur proyek Tol Cisumdawu terus melakukan aksi mogok makan dan mogok bicara.

Aksi Selasa (16/8/2022) tersebut merupakan aksi hari kedua.

Hari ini, Rabu (17/8/2022), aksi dihentikan sementara karena para penggarap menghormati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-77.

Baca juga: Tanggapi Aksi Mogok Makan Para Petani, Satker Tol Cisumdawu Sebut Pemerintah Tak Mungkin Tak Bayar

"Di Undang-undang kan begitu, tidak boleh ada aksi ketika 17 Agustus. Kami dari awal tak mau melanggar hukum," kata Asep Sujana, perwakilan petani penggarap dari Desa Cileles saat dihubungi TribunJabar.id, Selasa petang.

Asep mengatakan bahwa pada Kamis (18/8/2022), aksi akan dilanjutkan kembali. Namun, apakah aksi mogok makan dan mogok bicara yang berlanjut atau aksli longmarch.

Longmarch dilakukan dengan tujuan utama Istana Negara. Para petani penggarap ingin bertemu Presiden Joko Widodo.

"Rencananya 30 orang petani yang akan longmarch. Kami akan berjalan dan berhenti setiap 30 kilometer. Sampai ke Istana," kata Asep.

Dia tak tahu apakah aksi longmarch itu akan membawanya bertemu dengan presiden atau tidak. Dia dan para petani penggarap lainnya hanya bisa berjalan.

"Tim pejalan kaki full, diikuti oleh tim sweeping khawatir terjadi sesuatu hal di perjalanan, tim sweeping yang menanggulangi," kata Asep.

Dia mengatakan tuntutan petani adalah tetap. Mereka memohon pemerintah mengganti rugi atau memberi kompensasi kepada mereka atas garapan yang hilang.

Baca juga: Petani Peggarap Lahan di Jatinangor Mogok Makan dan Bicara, Tuntut Ini dari Proyek Tol Cisumdawu

Kini, mereka tidak punya pekerjaan. Asep mengatakan, para petani penggarap kini untuk mendapatkan makanan pun kesulitan. Jika memungkinkan, katanya, para petani meminta penggantian lahan garapan baru.

"Tahun 2015 kami dipaksa menandaratangani surat yang isi suratnya, jika lahan garapan diperlukan untuk bahan penyidikan, maka petani tak akan menuntut ganti rugi. Itu surat kami tanda tangani berdasarkan kebdohan kami, ketidak tahuan kami,"

"Kini, semuanya terbuka dengan jelas. Kami minta ganti rugi," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved