Peran UMKM dalam Mewujudkan SDGs ‘Tanpa Kemiskinan’: Perspektif Indonesia dan Korea Selatan

Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan salah satu agenda internasional yang disusun oleh PBB sejak 25 September 2015 dalam rangka untuk m

Istimewa
Dosen Fakultas Bisnis UK Maranatha, Joni, Ph.D, AK, CA, CPSAK 

TRIBUNJABAR.ID, Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan salah satu agenda internasional yang disusun oleh PBB sejak 25 September 2015 dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia telah menjadi rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia.

Agenda internasional ini melibatkan 194 negara, masyarakat sipil, dan berbagai pelaku ekonomi di seluruh dunia yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030.

Adapun tujuan pertama yang diagendakan dalam SDGs adalah menghapus kemiskinan. Dalam acara pengabdian masyarakat ‘SDGs’ Insight: How to Improve Small Medium Enterprise to Fight for Zero Poverty’ pada Rabu, 27 Juli 2022 yang digagas melalui kerja sama antara Fakultas Bisnis, UK Maranatha dan School of Business Administration & Accounting, Andong National University kepada para anggota Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO), Dosen Fakultas Bisnis UK Maranatha, Joni, Ph.D, AK, CA, CPSAK menyampaikan bahwa masalah kemiskinan hingga saat ini masih menjadi permasalahan utama di berbagai belahan dunia, oleh karena itu, menghapus kemiskinan menjadi tujuan pertama yang diagendakan dalam SDGs.

Dalam hal ini, menghapus kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan masalah uang, tetapi juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Deris Friyanto, S.H., M.M. selaku Sekretaris DPD HIPMIKINDO Jawa Barat memaparkan bahwa Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dapat memberi kontribusi penting dalam menghapus kemiskinan di Indonesia.

Deris Friyanto, S.H., M.M. selaku Sekretaris DPD HIPMIKINDO Jawa Barat
Deris Friyanto, S.H., M.M. selaku Sekretaris DPD HIPMIKINDO Jawa Barat

Beberapa peranan signifikan UMKM antara lain, UMKM memberikan kontribusi hingga 61,97 persen terhadap total PDB nasional pada tahun 2020.

UMKM juga terbukti mampu menyerap tenaga kerja di Indonesia hingga 97%, bahkan hingga tenaga kerja yang berpendidikan rendah sekalipun, dan UMKM menyerap kredit hingga mencapai Rp. 1 triyun pada tahun 2018.  

Pada masa pendemi covid 19, sekitar 8 dari 10 pelaku UMKM di Jawa Barat mengalami penurunan usaha yang disebabkan karena terjadinya penurunan permintaan konsumen dan tidak dapat beroperasinya secara normal para pelaku, mitra maupun investor UMKM.

Kendala lain yang dihadapi oleh UMKM pada masa pandemi covid 19 adalah terjadinya perubahan pola transaksi di masyarakat dari offline ke online, adanya pembatasan mobilitas tenaga kerja karena pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), serta adanya kesulitan memperoleh bahan baku karena timbulnya hambatan dalam distribusi produk.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kembali UMKM di Indonesia meliputi upaya penyelamatan, pemulihan, dan penormalan UMKM. Upaya penyelamatan yang telah direalisasikan adalah berupa pemberian fasilitas kredit usaha dengan cicilan dan bunga ringan bagi para pelaku UMKM.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved