Breaking News:

Habib Bahar Ngaku Tertawa Baca Dakwaan, Singgung Kalimat 'untuk Keadilan', Tuding Ada Intervensi

Habib Bahar bin Smith, terdakwa kasus dugaan penyebaran berita hoaks, menganggap tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) penuh dengan intervensi. 

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Habib Bahar bin Smith (beserban) saat berbincang dengan pengacaranya ketika menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (4/8/2022) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Habib Bahar bin Smith, terdakwa kasus dugaan penyebaran berita hoaks, menganggap tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) penuh dengan intervensi. 

Hal itu diungkapkan Bahar saat menyampaikan pleidoi atau nota pembelaan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (4/8/2022) malam.

Dalam sidang ini, tim kuasa hukum Habib Bahar membacakan nota pembelaan secara tertulis setebal 194 halaman.

Pembacaan pleidoi dimulai sejak sore dan baru berakhir pada malam hari. 

Setelah pleidoi tertulis selesai dibacakan tim kuasa hukum, giliran Bahar menyampaikan pleidoi secara lisan.

Bahar pun sempat menyinggung soal tulisan 'untuk keadilan' yang tertuang dalam berkas tuntutan JPU. 

Baca juga: Dituntut 5 Tahun Penjara Karena Dituduh Sebarkan Berita Bohong, Habib Bahar Katakan Ini ke Jaksa

"Saya tertawa melihat isi dakwaan 'untuk keadilan' tapi nyatanya isinya bohong. Penuh kemunafikan dan kepalsuan," ujar Bahar. 

Menurutnya, 'untuk keadilan' yang ditulis JPU tidak sesuai dengan apa yang menimpa pada dirinya.

Bahkan, tuntutan lima tahun penjara terhadapnya diduga ada intervensi terhadap JPU. 

"Saya yakin, tuntutan lima tahun bukan kemauan mereka (JPU). Tapi intervensi atasan. Makanya saya bilang jangan untuk keadilan, tapi kezaliman. Mana keadilan, saya ditangkap secepat kilat, belum diperiksa saksi sudah ditahan," katanya. 

Bahar lantas membandingkan ceramahnya di Margaasih, Kabupaten Bandung, yang dituduh menimbulkan keonaran dengan pejabat yang menurutnya kerap berbicara kebohongan namun tak diproses hukum.

Baca juga: Pendukung Habib Bahar Teriak di Ruang Sidang, Sebut Tuntutan 5 Tahun Penjara Tak Adil, Hakim: Diam

"Keonaran daring gara-gara saya ceramah, beda pendapat di media sosial, apakah adil? Kenapa banyak pejabat berbohong, berdusta, ingkar janji, bukankah itu kebohongan yang di dalamnya ada keonaran, bahkan keonaran daring, banyak rakyat susah. Apa ini disebut keadilan?" ucapnya. 

Sebelumnya, JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar menuntut Habib Bahar bin Smith dengan pidana kurungan penjara selama lima tahun.

Tuntutan terhadap Bahar dibacakan JPU Kejati di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (28/7/2022). 

"Menuntut terdakwa HB Assayid Bahar bin Ali bin Smith dengan pidana penjara selama 5 tahun," ujar JPU. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved