Liputan Khusus, Bertahun-tahun Siswa di Cianjur Nyebur ke Sungai untuk Sekolah & Waswas Saat Belajar

Mereka harus nyebur ke Sungai Ciujung untuk sampai sekolah. Di sekolah, mereka harus belajar di bangunan yang sudah tak layak.

ISTIMEWA/BANG JAY
Sekitar 100 murid sekolah dasar negeri Padawaras, Desa Sukaluyu, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, selalu datang dengan seragam yang basah saat tiba di sekolah karena harus menyeberangi sungai Ciujung. 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Nasib buruk harus dijalani seratusan murid Sekolah Dasar Negeri Padawaras, Desa Sukaluyu, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur.

Sejak jembatan yang melintasi Sungai Ciujung hilang disapu banjir bandang, 2018 lalu, mereka terpaksa menyeberangi sungai dengan mencebur ke sungai untuk sampai ke sekolah.

Tak pelak, setiap hari, anak-anak terpaksa harus belajar dengan baju seragam yang basah kuyup di sekolah.

"Mereka seperti sudah terbiasa. Namanya anak-anak menyeberang dengan mencebur ke sungai, terkadang mereka juga main-main dulu. Alhasil, di sekolah seragamnya pasti setengahnya basah," ujar Enyep (48), salah seorang guru di SDN Padawaras, Minggu (31/7).

Saat musim hujan tiba, kata Enyep, sebagian besar anak-anak juga pasti tak akan ke sekolah karena Sungai Ciujung kerap meluap.

"Kalau sungainya meluap pasti enggak akan masuk [sekolah].  Enggak bisa nyeberang. Enggak ada jalan buat ke sekolah," ujarnya.

Tak hanya akses ke sekolah yang terganggu karena ketiadaan jembatan, cerita Enyep, keselamatan murid-murid di SDN Padawaras juga terancam karena bangunan SD tersebut yang sudah rusak.

"Sekolah kami sebenarnya sudah tak lagi layak untuk dipakai. Ruangan kelas 5-6 sudah rusak, begitu pula ruangan kantor guru. Sudah mau ambruk," ujarnya.

Kepala Desa Sukaluyu, Wahyu, mengatakan sejak jembatan di Sungai Ciujung itu hanyut 2018 lalu, setiap hari sebagian besar warga memang terpaksa harus mencebur ke sungai agar bisa menyeberang.

"Sejak jembatan itu hanyut hingga sekarang belum ada pembangunan jembatan baru. Sudah berulang kali kami mengajukan pembangunan jembatan, tapi belum juga terealisasi," ujarnya.

Untuk membangun jembatan, ujar Wahyu, perlu dana yang tidak sedikit sehingga tak bisa dikaver oleh dana desa.

Terlebih, selama ini, dana desa pun sudah dibagi-bagi untuk berbagai keperluan. Mulai dari untuk keperluan penanganan Covid-19 hingga untuk bantuan langsung tunai.

"Sehingga untuk penanganan infrastruktur, apalagi membangun jembatan yang membutuhkan anggaran hingga ratusan juta rupiah, kami kesulitan jika harus menggunakan dana desa," ujarmnya.

Meski pihak desa mengaku sudah berulangkali mengajukan pembangunan kembali  jembatan di Sungai Ciujung yang hilang tersau banjir, empat tahun silam, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Cianjur, Wiguno, mengaku belum melihat adanya pengajuan tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved