Pemilu 2024

Jelang Pemilu, Aktivis Mahasiswa Suarakan Hak Konstitusional Rakyat, Ingatkan Elite Politik Partai

Jaringan aktivis pemuda dan mahasiswa, menyoroti situasi politik Pemilu 2024. Agenda publik ini jangan sampai dicederai oleh elite politik

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Darajat Arianto
Tribun Jabar/Muhammad Syarif Abdussalam
ILUSTRASI aksi mahasiswa. Jaringan aktivis pemuda dan mahasiswa, mulai menyoroti situasi politik jelang Pemilu 2024. Agenda publik ini di antaranya jangan sampai dicederai oleh ulah segelintir elite politik partai. 

Laporan wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jaringan aktivis pemuda dan mahasiswa, mulai menyoroti situasi politik jelang Pemilu 2024.

Agenda publik ini di antaranya jangan sampai dicederai oleh ulah segelintir elite politik partai.

Salah satunya dari pemuda dan aktivis di Kuningan yang menggelar diskusi terkait situasi politik. 

Diskusi tersebut dihadiri sejumlah organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan jaringan aktivis se-Kabupaten Kuningan lainnya.

Dalam diskusi tersebut, Ketua HMI Cabang Kuningan, Toto Sunarto mengatakan, momentum pemilu 2024 merupakan hajatan akbar seluruh rakyat Indonesia. 

Agenda publik ini, kata dia, jangan sampai dicederai oleh ulah segelintir elite politik partai.

"Sebab, situasi yang terjadi saat ini justru kontraproduktif terhadap semangat demokrasi. Demokrasi mengandaikan adanya supremasi rakyat dalam setiap penentuan agenda publik. Namun, kenyataannya semua kanal telah dimonopoli segelintir elite partai yang berakibat buruk terhadap hak kedaulatan rakyat," ujar Toto, dalam keterangannya, Minggu (31/7/2022).

Ia juga menyoroti sikap petinggi partai dalam merespons tuntutan masyarakat saat ini yang belum peka terhadap aspirasi masyarakat.

Tak hanya, para aktivis ini juga khawatiran adanya intervensi dari penguasa terhadap Pemilu 2024.

Ketua PMII Kuningan, Evi Novianti mengatakan, jangan sampai kelompok oligarki mengalahkan kekuatan partisipatif rakyat dalam Pemilu 2024.

Kecerdasan politik masyarakat, kata dia, seyogyanya tak hanya sebagai objek demokrasi, melainkan sebagai subjek kritis.

"Tapi lagi-lagi, inilah naifnya, publik hanya mendapatkan janji dan pesona, bahkan menyaksikan gejolak yang merugikan publik," ujar Evi.

Ketua IMM Kuningan, Younggi menyebut ada yang salah dalam praktik demokrasi saat ini. Sebab, kata dia, rakyat semakin tidak berdaya dalam menentukan pilihan politiknya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved