Kenali Penyebab dan Penanganan Sumbing Secara Tepat

Tribunners, tahukah Anda bahwa sumbing yang ditandai adanya celah pada bibir, gusi, dan atau langit-langit mulut yang kerap kita jumpai, merupakan kon

Penulis: Cipta Permana | Editor: bisnistribunjabar
Santosa Hospital
Kenali penyebab dan penanganan Sumbing secara tepat 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG, - Tribunners, tahukah Anda bahwa sumbing yang ditandai adanya celah pada bibir, gusi, dan atau langit-langit mulut yang kerap kita jumpai, merupakan kondisi kelainan bawaan, yang diakibatkan oleh adanya gangguan pada masa kehamilan.

Gangguan kehamilan tersebut, terjadi pada trimester pertama, yang diduga akibat kegagalan pembentukan dan tumbuh kembang janin, yang dipengaruhi oleh kekurangan nutrisi termasuk asam folat, hingga dampak kebiasaan buruk seperti pemakaian obat-obatan, merokok, infeksi, stres, trauma, dan paparan radiasi.

Termasuk, riwayat penyakit misalnya kencing manis, usia tua saat kehamilan dan faktor genetik atau keturunan lainnya.

dr. Almahitta Cintami Putri, Sp.BP-RE(K)
dr. Almahitta Cintami Putri, Sp.BP-RE(K) Dokter Bedah Plastik Konsultan Luka Bakar dan Luka

Dokter bedah plastik konsultan luka bakar dan luka pada SANTOSA HOSPITAL BANDUNG CENTRAL, dr. Almahitta Cintami Putri, Sp.BP-RE(K) menjelaskan, faktor genetik turunan dapat mempengaruhi bayi terlahir dengan kondisi sumbing.

"Apabila terdapat anggota keluarga ada yang menderita sumbing bibir, gusi dan atau langit-langit, maka hal serupa pun dapat berpotensi dialami keturunannya, untuk memiliki kelainan yang sama," ujarnya saat ditemui di SANTOSA HOSPITAL BANDUNG CENTRAL, Minggu (24/7/2022).

Ia menuturkan, tanda adanya sumbing umumnya terjadi pada salah satu sisi atau kedua sisi pada bagian bibir, bahkan dapat sampai dasar hidung. Begitu pula pada kondisi sumbing gusi dan atau langit-langit.

Gejalanya tersebut, selain mempengaruhi penampilan wajah, namun juga dapat menggangu kondisi saat makan atau minum, karena adanya sumbing bibir, gusi dan atau langit-langit menyebabkan bibir tidak menutup sempurna. Sehingga menyebabkan daya hisap kurang dan cairan dapat tumpah atau masuk hidung.

Hal ini dapat berbahaya bila cairan masuk ke dalam saluran pernafasan.

Gejala lain dapat berupa gangguan bicara berupa sengau, susunan gigi yang tidak teratur, gangguan pertumbuhan gigi dan rahang, gangguan pendengaran yang dapat terjadi infeksi telinga tengah, gangguan psikis yang mungkin dialami saat bersosialisasi.

"Gejala gangguan atau beban psikis bukan hanya akan dialami oleh yang bersangkutan, namun dapat pula terjadi pada orang tua dan keluarga penderita, yang mungkin merasa bersalah atau malu dengan kondisi penderita. Terlebih bila ada stigma di masyarakat mengenai kutukan atau karma keluarga atau mitos lainnya," ucapnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved