Perundungan Anak di Tasik

Wagub Jabar: Saling Ledek dan Olok-olok Jangan Lagi Jadi Kebiasaan di Masa Sekarang

Wagub Jabar mengatakan saling ledek dan olok-olok di antara anak-anak jangan jadi kebiasaan.

TRIBUNJABAR.ID/FIRMAN SURYAMAN
Wagub Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, mengecam tindakan perundungan di Tasikmalaya yang menyebabkan seorang anak meninggal akibat dipaksa berbuat tak senonoh. Wagub pun meminta kasus tersebut diproses hukum agar memiliki efek jera. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum memohon maaf jika pernyataannya seputar kasus bullying di Tasikmalaya berkembang dan disalahartikan oleh masyarakat.

Ia memastikan penanganan kasus bullying yang diduga menyebabkan korbannya meninggal dunia ini tetap berproses dan mendapat pemantauan langsung Pemprov Jabar.

Sebelumnya, ia menyatakan bahwa candaan atau olok-olok menjadi hal yang biasa di masa lalu.

Ia hanya menyampaikan bahwa saat ia kecil, olok-olok sudah dianggap biasa saat itu walaupun tidak baik bagi pertumbuhan mental anak.

"Saya mohon maaf, menyampaikan hal semacam itu. Karena sebenarnya tidak bermaksud kepada konteks yang ada pada kejadian ini (kasus di Tasikmalaya). Yang saya sampaikan saat saya bercanda dengan rekan media, teman dengan teman suka saling ledek itu biasa. Tapi sebenarnya itu tidak boleh, sekali pun hal biasa, itu tidak boleh," katanya di Gedung Sate, Senin (25/7/2022).

Ia mengatakan hanya menceritakan masa kecilnya kepada awak media, saat saling ledek atau bully adalah hal yang dianggap lumrah.

Inilah, katanya, yang harus diperbaiki di masa sekarang dan jangan sampai kasus serupa terjadi kembali.

"Mohon maaf atas kesalahan pernyataan saya tentang hal itu karena memang saya dulu pernah kecil, dan waktu kecil suka saling meledek. Oleh karena itu mohon maaf atas kesalahan saya," tuturnya.

Ia pun menyatakan sesuai dengan arahan Gubernur Jabar Ridwan Kamil, pihaknya menyerahkan semuanya kepada aparat penegak hukum. Ia berharap mudah-mudahan ada hikmah tersendiri dari kejadian jni.

"Harus benar-benar keputusan yang terbaik buat anak, tidak terjadi lagi korban selanjutnya tetapi memiliki efek jera terhadap anak yang lain. Sehingga, tidak terulang lagi di Jabar. Di samping pilar-pilar anak seperti KPAID, desa dan kelurahan layak anak dan juga action action para pemerhati anak di daerah jadi penting," katanya.

Ia pun meminta kepada orang tua dari sejak awal untuk bisa lebih bijaksana lagi memberikan handphone kepada anak.

Karena handphone ini ada madaratnya sehingga kalau anak diberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya menggunakan handphone, akan ada efek negatifnya.

"Kalau anak diberikan handphone sewajarnya, minimal satu sampai dua jam sehari, setelah itu rawat lagi sama orang tua. Karena korban bukan hanya itu dari handphone, ada juga saat saya datang ke rumah sakit yang ada di Cisarua, banyak korban-korban handphone, hampir 30 orang, anak kecil usia SMP nyanyi saja terus, pidato terus, tangannya enggak bisa diam, dan yang lainnya," katanya.

Ia mengatakan ada beberapa kasus terhadap anak yang terjadi dan meminta KPAID kabupaten/kota harus segera terbentuk dan beraksi sehingga meminimalisasi kasus terhadap anak.

Baca juga: Hingga Juli 2022, DPPKBP3A Kabupaten Cirebon Terima Puluhan Laporan Kekerasan pada Perempuan & Anak

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved