Potensi Gelombang Tinggi di Sukabumi, Bupati Sebut Warga Pesisir Sudah Direlokasi, tapi Balik Lagi

BMKG memprakirakan gelombang tinggi di selatan Jawa Barat, termasuk Sukabumi, terjadi hingga akhir bulan Juli 2022.

Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gelombang tinggi di selatan Jawa Barat, termasuk Sukabumi, terjadi hingga akhir bulan Juli 2022. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gelombang tinggi di selatan Jawa Barat, termasuk Sukabumi, terjadi hingga akhir bulan Juli 2022.

BMKG pun memberikan imbauan kepada masyarakat pesisir atau yang beraktivitas di pesisir pantai untuk waspada dan hati-hati.

"Bagi masyarakat yang tinggal ataupun berkepentingan mengunjungi kawasan pesisir selatan Jawa Barat untuk selalu waspada dan berhati-hati karena potensi gelombang tinggi masih mungkin terjadi hingga akhir bulan (Juli) ini. Selain itu, perlu diwaspadai juga kejadian seperti abrasi dan kerusakan infrastruktur pantai lainnya yang disebabkan oleh gelombang tinggi dan angin kencang," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu.

Baca juga: BMKG Imbau Warga Pesisir Selatan Sukabumi Waspada, Berpotensi Terjadi Gelombang Tinggi 6 Meter

Menanggapi potensi terjadinya gelombang tinggi hingga akhir bulan ini, Bupati Sukabumi, Marwan Hamami mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi telah mengupayakan sosialisasi kepada masyarakat. Bahkan, warga pesisir yang dulu terdampak gelombang tinggi sudah pernah direlokasi, tapi warga itu malah kembali ke pesisir dan meninggalkan tempat relokasi.

Marwan mengatakan, warga terdampak itu merupakan warga di kawasan pesisir pantai Cipatuguran, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu. Menurutnya, mereka pernah direlokasi, namun malah kembali ke pesisir.

"Ya sosialisasi jelas lah, karena kadang-kadang tadi masyarakat pun diajak mereka karena kebutuhan hidup kan sulit, kemudian tidak boleh membangun di pinggir pantai dan mereka sudah dipindahkan tempatnya," ujarnya di kantor Setda, Senin (18/7/2022).

"Tetep we ngabangun deui didinya nu kamari banjir itu (tetap saja membangun lagi di sana yang kemarin kebanjiran), kan mereka-mereka (warga Cipatuguran, red) yang kemarin kena banjir itu sudah ditempatkan di atas (Cimanggu), baralik deui kadinya (balik lagi ke situ), misalnya kaya begitu," ucap Marwan.

Sebab itu, ia meminta tokoh masyarakat membantu mensosialisasikan agar warga tidak tinggal di pesisir dan menempati tempat relokasi yang telah disediakan.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Laut, Sebuah Perahu di Pangandaran Tenggelam Akibat Terhempas Gelombang Tinggi

"Makanya saya bilang, kepedulian masyarakatnya sendiri ini harus terus, jadi tanggungjawabnya bisa oleh para alim ulama, para ustaz ketika pengajian misalnya, dibantu sosialisasi itu," katanya.*

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved