Harga BBM Naik Lagi, Acuviarta Kartabi Sebut Pemerintah Pakai Jurus Mabuk

Komentar keras disampaikan pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, Bandung, Acuviarta Kartabi, menyusul harga BBM naik lagi.

Dokumen Pribadi
Acuviarta Kartabi, Pengamat Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan sebut harga BBM naik lagi. Pemerintah pakai jurus mabuk 

TRIBUNJABAR.ID - Komentar keras disampaikan pakar ekonomi dari Universitas Pasundan, Bandung, Acuviarta Kartabi, menyusul harga BBM naik lagi.  Pemerintah menaikkan kembali harga bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Acuviarta Kartabi mengatakan kebijakan ini sangat mengganggu upaya pemerintah dan Pertamina sendiri ingin membuat masyarakat bermigrasi ke konsumsi BBM nonsubsidi.

"Apa yang dilakukan oleh pemerintah dan apa skenarionya ya? Saya kira ini skenario jurus mabuk ya. Jadi tembak sana tembak sini ya, pakai main-main Pertamina kebijakannya kayak begitu, dicobanya enggak terstruktur," kata Acuviarta Kartabi saat dihubungi, Minggu (10/7).

Padahal sebelumnya, katanya Pertamina baru saja menyaratkan penggunaan aplikasi MyPertamina untuk membeli BBM bersubsidi demi migrasi ke BBM nonsubsidi tersebut.

Baca juga: Harga BBM Naik Lagi, Berikut Daftar Harga BBM di Jawa Barat dan 33 Provinsi Lain di Indonesia

"Jadi kalaupun ada pembatasan yang di 11 kota itu yang terkait dengan penggunaan MyPertamina untuk BBM bersubsidi, kemudian sekarang ada kelompok masyarakat yang menganggap harga BBM nonsubsidinya jadi lebih tinggi, kebijakan ini jadi tidak efektif," katanya.

Apalagi menurut kajian Pertamina, kata Acu, 60 persen masyarakat mampu mengkonsumsi 80 persen BBM bersubsidi.
Artinya negara ingin meminta kepada masyarakat yang mampu untuk jangan membeli BBM bersubsidi. Tapi karena harganya semakin tinggi, kebijakan terdahulu menjadi tidak efektif.

Pertamax Turbo awalnya berharga Rp 14.500 per liter kini naik menjadi Rp 16.200 per liter. Kemudian, Pertamina Dex awalnya Rp 13.700 per liter, naik menjadi Rp 16.500 per liter, dan harga Dexlite naik sebesar Rp 15.000 per liter yang sebelumnya hanya Rp 12.950 per liter.

"Pemerintah menaikkan harga itu karena memang harga minyak dunia terus naik ya. Jadi paling tidak, bisa menambal. Nah tetapi kan menambal ini kemudian menyebabkan risiko fiskal, yaitu kenaikan beban subsidi. Jadi saya nilai Pertamina itu tidak serius sebenarnya. Kenapa, karena dia harus mengkombinasikan kebijakan antara kebijakan BBM berdasarkan harga pasar dan juga kebijakan BBM bersubsidi," katanya.

Pertamina, kata Acuviarta, harus mencari keseimbangan dalam setiap kebijakan. Keseimbangan yang diharapkan adalah tidak terlalu jauhnya gap harga antara BBM bersubsidi dengan nonsubsidi. Seperti diketahui, sekarang jaraknya sudah hampir 100 persen dengan yang bersubsidi.

"Pada saat BBM bersubsidi itu enggak terlalu jauh jarak harganya, contoh kemarin itu pertalite itu Rp 7.650 kemudian kita pernah waktu dulu kan Pertamax itu Rp 9 ribuan, itu agak bagus. Masyarakat juga paham mereka manfaat mengkonsumsi BBM yang lebih bagus," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved