Warga yang Bingung Gunakan Aplikasi MyPertamina Ngadu ke Anggota DPRD Kota Bandung

Warga masih bingung dan mengadu ke wakil rakyat terkait pemberlakuan pembelian pertalite dan solar harus menggunakan aplikasi MyPertamina

Penulis: Tiah SM | Editor: Januar Pribadi Hamel
TribunStyle.com / kolase
Cara daftar MyPertamina untuk beli Solar dan Pertalit. Warga banyak yang bingung menggunakannya dan mengadu ke anggota DPRD Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Warga masih bingung dan mengadu ke wakil rakyat terkait pemberlakuan pembelian pertalite dan solar harus menggunakan aplikasi MyPertamina.

Anggota DPRD Kota Bandung, Andri Rusmana mengaku kebanjiran pengaduan terkait MyPertamina.

"Warga mengadu datang langsung, melalui whatsapp, telepon ada juga melalui Medsos terkait MyPertamina," ujar Andri di Gedung DPRD Jalan Sukabumi, Jumat (1/7).

Baca juga: Beli BBM Berubsidi Pakai Aplikasi MyPertamina, Hari Pertama Masih Sosialisasi Boleh Bayar Tunai

Andri mengatakan, warga mengadu karena keberatan menggunakan aplikasi apalagi harus menyimpan uang, padahal beli bensin juga harus cari uang dulu.

"Itu kebijakan pemerintah pusat, tapi bisa kan saya sebagai wakil rakyat menolak kebijakan itu," ujarnya.

Menurut Andri, kebijakan itu membutuhkan waktu harus ada sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu.

Andri mengatakan, kebijakan perihal pembelian pertalite melalui aplikasi MyPertamina merupakan kebijakan yang sangat memberatkan bagi masyarakat kecil yang sehari hari sangat membutuhkan bahan bakar tersebut.

Warga butuh pertalite karena perbedaan dengan harga pertamax cukup besar.

"Kesulitan masyarakat tidak semua orang mempunyai hp smartphone sehingga tidak mampu melaksanakan kebijakan tersebut," ujarnya.

Pada prinsipnya bahwa pertalite itu sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat kecil sehingga masyarakat yang mampu tetap akan selalu menggunakan pertamax jadi tidak perlu berburuk sangka terhadap masyarakat mampu yang beralih menjadi pengkonsumsi pertalite.

Menurut Andri, perlu diatur dan ditambah jumlah pengisian di tempat SPBU khusus pertalite kendaraan roda dua di mana saat ini hanya dibuka satu sampai dua pompa.

"Harusnya bisa mencapai empat sampai enam pompa disetiap SPBU khusus pertalite sehingga masyarakat kecil dapat terlayani dengan baik," ujar Andri.

Andri mengatakan, selaku penyedia jasa bahan bakar oleh pemerintah, kebijakan yang akan diterapkan pada tanggal 1 Juli 2022 sebaiknya untuk ditangguhkan sebelum cara yang lebih baik dilakukan dengan penambahan pompa pertalite di SPBU khusus roda 2.

Andri mengatakan, pemberlakuan Mypertamina masih uji di beberapa kota dan Kota Bandung masuk dalam uji coba.

Andri berharap pemerintah provinsi atau pemerintah kota dapat menolak kebijakan penggunaan pembelian pertalite melalui aplikasi. (tiah sm)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved