Siap-siap, Angin Kumbang dari Gunung Ciremai Bakal Terjang Majalengka, Cirebon dan Kuningan

Angin ini ditandai dengan adanya kenaikan suhu udara sebesar 2-5 derajat celsius per jam pada pagi hari hingga siang hari.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Cirebon/ Eki Yulianto
Prakirawan BMKG Kertajati Majalengka, Ahmad Faa Izyin. Angin kencang mulai melanda Majalengka dalam beberapa hari terakhir. Angin kumbang atau di Majalengka biasa disebut “angin lalakina” 

Namun demikian musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, karena hujan masih tetap ada dengan intensitas curah hujan di bawah 155 mm per bulan.

Pada umumnya menurut Faiz Zyin, musim kemarau tahun ini diprakirakan bersifat di atas normal, yang berarti kondisi curah hujannya lebih banyak dari tahun 2020 lalu atau dari rata-rata normalnya.

“Beberapa hari kemarin suhu udara terasa dingin pada malam dan pagi hari. Ini disebabkan adanya pergerakan massa udara dingin dan kering dari Australia ke Asia yang melewati wilayah-wilayah Indonesia,” ucapnya.

Saat musim kemarau tiupan awan sedikit, atau bisa dikatakan tidak ada sehingga bumi ini jadi semacam tidak berselimut, lalu panas yang diserap pada siang hari akan sangat mudah dilepas pada malam hari, sehingga malam hari terasa lebih dingin dari biasanya.

Angin kumbang sendiri di Kabupaten Majalengka disebut angin lalakina.

Disebut angin lalakina karena angin yang terjadi di Majalengka bisa sangat besar dan bisa menyingkapkan rok para perempuan bagi yang mengenakan rok lebar.

Ketika angin besar, kaum perempuan yang mengenakan rok lebar akan kesulitan mengendalikan roknya karena akan menyingkap ke atas dan rambut pun kusut tertiup angin.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini di Sumedang 30 Juni 2022, Cerah Berawan, Angin Dingin Berhembus

Tangan kedua tangan akan repot menahan rok yang tersingkap dan wajah “merem” terkena hempasan angin bercampur debu.

“Biasanya kalau sudah angin besar rok tersingkap, ketika ini terjadi dan tengah berjalan kaki maka kedua tangan sibuk merapihkan rok, sambil membelakangi arah angin seraya mata ‘merem’, agar wajah tidak terkena debu. Makanya banyak yang menyebut angin kumbang disebut angin lalakina," jelas dia.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved