Begini Modus Pasutri Asal Indramayu Mengedarkan Uang Palsu

Kapolres Cirebon Kota, AKBP M Fahri Siregar, mengatakan kedua tersangka mengedarkan uang palsu melalui media sosial Facebook.

Tribun Jabar/Ahmad Imam Baehaqi
Pasutri yang mencetak dan mengedarkan uang palsu saat dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolres Cirebon Kota, Jalan Veteran, Kota Cirebon, Selasa (28/6/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Pasangan suami istri (pasutri) asal Indramayu berinisial DM (37) dan US (32) nekat mencetak serta mengedarkan uang palsu.

Keduanya ditahan dan masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Cirebon Kota.

Kapolres Cirebon Kota, AKBP M Fahri Siregar, mengatakan kedua tersangka mengedarkan uang palsu melalui media sosial Facebook.

Menurut dia, pasutri menjual uang palsu dengan perbandingan 1 : 5, yakni Rp 300 ribu dan pembeli akan mendapatkan uang palsu berbagai pecahan totalnya 1,6 jutaan.

"Para tersangka melayani pembelian secara online, kemudian mengirimkannya melalui jasa kurir," kata M Fahri Siregar saat konferensi pers di Mapolres Cirebon Kota, Jalan Veteran, Kota Cirebon, Selasa (28/6/2022).

Baca juga: Polres Cirebon Kota Ringkus Pasutri Asal Indramayu yang Cetak dan Edarkan Uang Palsu

Ia mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara kedua tersangka mengakui biasa mengedarkan uang palsu di Wilayah III Cirebon sejak enam bulan lalu.

Selain itu, mereka telah meraup keuntungan hingga Rp 16 juta dari hasil penjualan uang palsu yang dicetak sendiri di rumahnya tersebut.

Polisi juga mengamankan barang bukti berupa ratusan lembar uang palsu pecahan 5 ribuan - 100 ribuan dan sejumlah peralatan untuk mencetaknya.

"Totalnya, kami mengamankan 69 lembar pecahan 5 ribu, 93 lembar pecahan 20 ribu, 307 lembar pecahan 50 ribu, 60 lembar pecahan 100 ribu, dan lainnya," ujar M Fahri Siregar.

Fahri menyampaikan, dari pengakuannya, kedua tersangka mencetak uang palsu menggunakan printer dan kertas HVS kemudian dipotong-potong.

Mereka juga dijerat UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dan atau Pasal 244 KUHP dan atau Pasal 245 KUHP serta diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. 

 

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved