Madu Jadi Obat Alternatif PMK, Peternak Lebah Madu di Lembang Kebanjiran Pesanan

Banyaknya peternak sapi yang memesan madu tersebut karena madu dijadikan bahan campuran pakan sebagai obat alternatif penyembuhan PMK

Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Koswara (42), peternak lebah madu asal Maribaya, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menunjukan madu yang banyak dipesan peternak. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Koswara (42), peternak lebah madu asal Maribaya, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tidak menyangka madu hasil produksinya banyak dipesan peternak sapi setelah merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).

Banyaknya peternak sapi yang memesan madu tersebut karena madu dijadikan bahan campuran pakan sebagai obat alternatif penyembuhan PMK di saat ketersediaan obat-obatan dan vaksin masih sangat terbatas.

Koswara mengatakan, sejauh ini madu hasil produksinya banyak dipesan oleh sejumlah peternak dari Kecamatan Lembang, Parongpong, dan Cisarua karena di tiga daerah tersebut banyak peternak sapi.

Baca juga: Rugi Akibat PMK, Peternak di Bandung Barat Minta Kompensasi Segera Dicairkan

"Sebenarnya dalam kasus PMK ini kita kurang paham, karena sepengetahuan kita penyakit itu menyerang pencernaan (mulut) dan kuku pada sapi serta domba, tapi banyak peternak yang membeli madu," ujar Koswara di Lembang, Minggu (26/6/2022).

Setelah berbincang dengan para peternak, kata Koswara, ternyata madu ini memang bisa jadi obat alternatif yang bisa menyembuhkan PMK pada ternak mereka karena madu ini banyak khasiatnya.

"Kita banyak berbincang dengan peternak, bagaimana cara pengaplikasiannya. Katanya, karena di madu ini mengandung anti bakteri, vitaminnya banyak, dan anti virus juga ternyata bisa menyembuhkan PMK, tapi dengan catatan dicampur lolohan (pakan)," katanya.

Menurutnya, jika melihat kandungan yang ada di dalam madu tersebut, memang sangat pas untuk dijadikan obat alternatif PMK karena mengandung anti bakteri dan anti biotik yang sangat tinggi.

"Nah mungkin itulah yang bisa menyembuhkan PMK. Tapi, sejauh ini madu yang digunakan baru madu multiflora dari jenis lebah mellifera," ucap Koswara.

Ia mengatakan, madu jenis tersebut banyak dipesan oleh peternak karena harganya sangat murah, tetapi memiliki kandungan yang sangat pas dan bagus untuk dijadikan obat alternatif bagi ternak yang terserang PMK.

Baca juga: Wabah PMK di Jabar, Herry Dermawan; Momen untuk Memisahkan Dinas Peternakan Dari DKPP

"Sebenarnya yang paling bagus madu jenis trigona atau lebah klanceng atau kelulut karena mengandung anti bakteri yang sangat tinggi. Jadi, kalau diaplikasikan bisa lebih bagus untuk pencernaan dan luka juga bisa cepat kering," ujarnya.

Setelah adanya wabah PMK ini, kata dia, penjualan madu memang mengalami peningkatan, sehingga dengan dijadikannya madu sebagai obat alternatif, penularan PMK diharapkan bisa terhenti.

Sebelumnya, peternak sapi perah asal Kampung Cidadap, Desa Cibodas, Ayi (56) mengatakan, untuk mempercepat kesembuhan ternaknya yang terinfeksi PMK, pihaknya membuat ramuan khusus yang terbuat dari bahan-bahan tradisional.

"Seperti jahe, kunyit, jeruk lemon dicampur gula merah, telur serta madu. Kemarin-kemarin sapi saya enggak mau makan sama sekali, setelah diberi ramuan sekarang mendingan sudah mau (makan)," kata Ayi.

Hasil dari ramuan tersebut diklaim cukup berhasil karena sejumlah sapi miliknya yang sudah terserang PMK bisa sembuh dalam waktu dua hari setelah dicekoki ramuan tradisional itu.

Ayi mengatakan, dari sembilan ekor sapi miliknya, tujuh di antaranya terserang PMK, tetapi saat ini kondisinya sudah berangsur sembuh. Bahkan, hampir semua sapi di Desa Cibodas dan Suntenjaya juga terserang PMK banyak yang sembuh.

"Kalau bikin ramuan sudah lama, tujuannya agar stamina dan menjaga kesehatan sapi. Tetapi pengobatan dengan campuran madu baru sekarang setelah wabah PMK," ujarnya.

Baca juga: Herry Dermawan Minta Kabupaten/Kota Harus Jujur, Jangan Sampai Menyembunyikan Kasus PMK

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved