Pengaruh Bigdata Analytic Terhadap Demokrasi dan Dunia Politik Indonesia

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah mengubah banyak perilaku di kehidupan manusia

Editor: Ichsan
dok.pribadi
Pengaruh Bigdata Analytic Terhadap Demokrasi dan Dunia Politik Indonesia 

TRIBUNJABAR.ID - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah mengubah banyak perilaku di kehidupan manusia. Setiap hari pertambahan jumlah pengguna internet diiringi penambahan jumlah pengguna media sosial. Netizen baru terus tumbuh seiring dengan kebutuhan dan pola hidup di masyarakat. 

Media sosial yang awal nya sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi di dunia maya kini bertransformasi menjadi alat bantu lembaga pemerintah dan swasta untuk menyerap aspirasi masyarakat. Tidak kurang jutaan konten perhari dituangkan di media sosial dalam beragam bentuk data text, suara, gambar dan video. 

Dengan mulai berkembangnya implementasi bigdata di lembaga Pemerintah dan swasta Indonesia berharap bisa penetrasi ke berbagai bidang lainnya untuk membantu proses demokratisasi di Indonesia agar kehidupan politik bangsa bisa tergambar untuk bahan evaluasi bagi para pemilik kepentingan untuk menjadi lebih baik lagi.

Secara etimologi istilah 'Big Data'  diperkenalkan pada pertengahan 1990-an, pertama kali digunakan oleh John Mashey, mantan pensiunan Kepala Ilmuwan di Silicon Graphics, untuk merujuk pada penanganan dan analisis kumpulan data masif (Diebold, 2012). Di 2001, Doug Laney merinci bahwa big data memiliki 3 (tiga) ciri utama yaitu volume ( kapasitas data), velocity ( kecepatan pemrosesan ) dan variety ( berbagai macam bentuk terstruktur, semi tersetruktur dan tidak terstruktur ) 

Dalam bahasa lain bigdata adalah terminologi dalam teknologi informasi yaitu sebuah sistem yang mengumpulkan, memproses dan menyimpan data dengan kapasitas yang besar , lebih cepat dengan data yang sangat beragam dan kompleks baik data tidak terstruktur maupun struktur dari multi platform yang berbeda beda. Dalam pemrosesan data yang besar tersebut menggunakan algoritma artificial intelligent sehingga data bisa ditampilkan lebih mudah dimaknai oleh manusia untuk penggunaan segala bidang kehidupan.

Di Indonesia sudah banyak penyedia dari Bigdata ini baik secara services based maupun software based secara utuh ke end user. Bigdata diluar negeri juga telah banyak digunakan sebagai tools diberbagai bidang seperti business intelligent, bidang milter, pertahanan dan keamanan, kepolisian untuk bidang kriminal bahkan bidang demokrasi dan politik baik pada lembaga pemerintah maupun oleh swasta ( konsultan politik ).

Baca juga: Klaim Luhut soal Pemilu 2024 Layak Ditunda Berdasarkan Big Data Hanya Mengada-ada? Begini Kata IT

Ramai mengemuka setelah statement pejabat salah satu kementerian di Indonesia yang telah mengungkapkan Bigdata sebagai dasar dari wacana kebijakan Pemerintah yang kemudian menjadi perbincangan pro kontra dimasyarakat. Tidak ada yang salah hasil Bigdata disandarkan sebagai bahan referensi kebijakan Pemerintah, namun yang diperlukan selanjutnya adalah bagaimana keberadaan data tersebut bisa dibuktikan kepada masyarakat sebagaimana amanat UU No. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

Menarik dari perkembangan aplikasi dari bagiaan revolusi industry 4.0  ini adalah dimana di luar negeri banyak menggunakan bigdata untuk melakukan pemetaan informasi, netizen profiling dan memonitor sebaran konstituen dan predictive analysis yang bersumber pada media sosial. Bigdata bisa mempelajari perilaku dan kejadian masa lalu untuk menentukan langkah strategis di masa depan. Yang paling mendunia adalah kemenangan Donald Trump Presiden ke-45 Amerika Serikat ditopang keberadaan bigdata dari Cambridge analytica. 

Penggunaan data analytic Donald Trump bukan yang pertama, sebelumnya pada tahun 2008 Obama telah menggunakan tim analis data  100 orang khusus untuk mempelajari perilaku masa lalu dan masa depan para pemilih. Kini dengan bigdata analytics, data analysis yang dilakukan manusia juga dibantu mesin yang kemudian lebih cepat dan menghasilkan jangkauan yang lebih besar. Perkembangan teknologi yang terus mendominasi perubahan perilaku kehidupan manusia , munculnya revolusi industry 4.0 disambut dan telah banyak diadopsi secara defacto oleh banyak Negara didunia. Penggunaan IoT, Artificial Intelligent , cyber security, cloud computing adalah salah satu penggunaan pada revolusi industry 4.0 termasuk Bigdata yang didalamnya memuat algoritma artificial intelligent.  

Kini bigdata bisa menjadi alternatif alat bantu ( tools ) baik oleh konsultan politik maupun tim pemenangan organik kandidat untuk memenangkan paslon baik Pilpres maupun Pilkada ( Gub, Bupati/Walikota ). Sebagai alat bantu untuk pemenangan salah satu kontestan seperti yang dilakukan calon Presiden Amerika Serikat ke-45 Donald Trump melalui konsultan politik Cambridge Analytica. Konsultan politik tersebut menargetkan kampanyenya berdasar pada profiling netizen yang diperoleh dari bigdata sehingga hasil desain pesan kampanye disampaikan pada sasaran yang tepat secara demografi, profesi dan kebiasaan. Dari hasil paparan datascience foundation Amerika Serikat kontribusi kemenangan pada Donald trump pada pilpres 2018, aspek data analytic & strategi menyumbangkan sebesar 38 % dibanding komunikasi digital yang memberikan konstribusi kemenangan hanya sebesar 7.7 % .

Di bidang pemerintahan, Bigdata telah banyak digunakan beberapa negara maju dan berkembang bahkan di Indonesia beberapa kementerian dan Pemerintah daerah, Bigdata telah menjadi standard de facto sebuah sistem database utama dan monitoring publik untuk memudahkan pihak berwenang dalam melakasakan aktivitas penyelenggaraan Pemerintahan dan pelayanan publik.

Di Republik Indonesia yang sudah memasuki tahun politik pada pilpres dan pileg tahun 2024, konsultan politik dan survei  masih memiliki peranan penting dalam mensemarakkan bursa para calon dengan survey-survei konvensional yang dilakukan  tiap minggu. Diumumkan diberbagai media agar publik membaca hasil yang diperoleh dengan jumlah sample tergantung Margin error yang ditentukan. Tidak selalu tepat hasil survei dalam memprediksi kemenangan calon, tetapi secara prosentase hasil survei konvensional juga memberikan ketepatan lebih besar dibanding ketidak tepatannya.

Era digital memberikan banyak dampak perubahan pada perilaku kehidupan sosial masyarakat dan bernegera, salah satunya dalam menyatakan pendapat dimuka umum melalui media sosial. Jika perilaku lama dengan menuliskan surat pembaca dimedia elektronik, kini masyarakat ( netizen ) bisa secara private langsung kirim pesan ke institusi/pejabat yang dituju melalui media sosial.

Tinggal nanti apakah untuk konsumsi publik atau hanya ditujukan ke pejabat pribadi saja bisa melalu direct messages atau inbox.  Semakin banyak rakyat Indonesia menggunakan layanan media sosial maka tentu ini menjadi concern tersendiri bagi Pemerintah terhadap aspirasi yang berkembang dimasyarakat. Fakta dilapangan terhadap kasus sosial tertentu yang viral dimedia sosial yang telah menyedot perhatian publik, tentu pihak berwenang melakukan langkah cepat dalam dalam menyelesaikan sampai tidak timbul keresahan berkepanjangan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved