Anak Bandung Dibuang di Banyumas

Kolonel Inf Priyanto Remehkan soal HAM, Salah Satu Pertimbangan Hakim Vonis Penjara Seumur Hidup

Brigjen TNI Faridah Faisal menjadikan hak asasi manusia salah satu pertimbangan menjatuhkan vonis penjara seumur hidup

Editor: Ravianto
Tribunnews.com/ Gita Irawan
Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terkait kecelakaan di Nagreg Jawa Barat, Kolonel Inf Priyanto dalam sidang dengan agenda pembacaan nota pembelaan di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta pada Selasa (10/5/2022).(Tribunnews.com/ Gita Irawan) 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Majelis Hakim di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta menjatuhkan putusan pidana penjara seumur hidup dan dipecat dari dinas militer kepada Kolonel Inf Priyanto, terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terkait kecelakaan di Nagreg Jawa Barat , Selasa (7/6/2022).

Brigjen TNI Faridah Faisal menjadikan hak asasi manusia salah satu pertimbangan menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap terdakwa kasus kecelakaan di Nagreg yang berujung dibuangnya Handi Saputra dan Salsabila ke Sungai Serayu.

Hasil forensik malah menunjukkan kalau paru-paru Handi Saputra kemasukan pasir halus, tanda dia masih bernafas saat dibuang ke Sungai Serayu.

Baca juga: Kolonel Inf Priyanto Divonis Penjara Seumur Hidup, Ini Berkas Putusan yang Dibacakan Hakim Ketua

Baca juga: Ahli Forensik: Handi Saputra Bisa Selamat Kalau Tak Dibuang Kolonel Inf Priyanto, Lukanya Tak Fatal

Dalam pertimbangan putusan yang dibacakannya, Faridah mengatakan dalam perkara ini Kolonel Inf Priyanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, melakukan perampasan kemerdekaan orang lain, dan menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematiannya yang mengakibatkan para korban meninggal dunia dan mayat ditemukan dalam keadaan mengenaskan. 

Para korban, kata dia, adalah korban kecelakaan yang seharusnya mendapat pertolongan Kolonel Inf Priyanto untuk mendapatkan perawatan medis.

Selain itu, kata dia, Kolonel Inf Priyanto sebagai prajurit yang dipersiapkan dan dilatih dengan ilmu serta keterampilan militer untuk bertempur dengan musuh telah menyalahgunakan ilmu dan keterampilannya tersebut untuk menghilangkan nyawa orang lain.

Perbuatan Kolonel Inf Priyanto, kata dia, bertentangan dengan semangat dan upaya TNI untuk memberikan citra dan kesetiaan dalam Negara Republik Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam sidang putusan di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta pada Selasa (7/6/2022).

"Selain itu perbuatan dan cara terdakwa menghabisi nyawa korban dilakukan dengan kejam dan sangat bertentangan dengan hak asasi manusia, sikap dan kepribadian terdakwa yang menganggap remeh dan tidak menghargai hak asasi manusia dapat membahayakan orang lain," kata Faridah.

Oleh karena itu untuk menggunakan efek jera kepada prajurit lain dan masyarakat, Majelis Hakim akan menjatuhkan hukuman yang sepadan dengan perbuatan Kolonel Inf Priyanto.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved