SCCIC ITB Jalin kerjasama Dengan Berlin, Perkuat Tata Kota dan Inovasi di DKI Jakarta

Institut Teknologi Bandung melalui Smart City and Community Innovation Center (SCCIC ITB) jalin kerjasama dengan Berlin, Jerman.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar/Nazmi Abdurahman
Institut Teknologi Bandung melalui Smart City and Community Innovation Center (SCCIC ITB) jalin kerjasama dengan Pemerintah Negara Bagian Berlin, Jerman. Kerja sama dilakukan untuk proyek Smart Change-Memperkuat Tata Kelola Perkotaan, Kemakmuran dan Inovasi di Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Institut Teknologi Bandung melalui Smart City and Community Innovation Center (SCCIC ITB) jalin kerjasama dengan Pemerintah Negara Bagian Berlin, Jerman. 

Kerja sama tersebut dilakukan untuk proyek Smart Change-Memperkuat Tata Kelola Perkotaan, Kemakmuran dan Inovasi di Jakarta. 

Proyek yang didanai oleh Uni Eropa di bawah kepemimpinan Senat Berlin Departemen Urusan Ekonomi dan Energi ini, dilakukan untuk mendukung terlaksananya transformasi digital dan program transformasi kota 4.0 di DKI Jakarta

SCCIC sebagai pusat penelitian yang berfokus di bidang smart city, ditunjuk sebagai konsultan kajian mengenai tata kelola pemerintahan yang baik, basis data perkotaan dan kualifikasi organisasi dalam bentuk Smart City Roadmap termasuk perencanaan implementasi program Jakarta Smart Change. 

Baca juga: Wujudkan Smart City, Bupati Majalengka Teken MoU Dengan Menteri Kominfo RI

Saat ini, SCCIC telah mengembangkan konsep pembangunan smart city yang disebut dengan Garuda Smart City Framework (GSCF). 

Konsep ini telah diimplementasikan di beberapa kota di Indonesia dan menjadi acuan dalam pembuatan Smart City Roadmap bagi keberlangsungan program. 

Kepala SCCIC ITB, Prof. Suhono H. Supangkat mengatakan, dalam GSCF setidaknya meliputi tiga aspek, yakni smart economy, smart society dan smart environment. 

"Aspek-aspek ini dapat tercapai apabila terjadi hubungan yang baik antara tiga komponen yakni resources, enabler dan process. Resources merupakan sesuatu yang tersedia dan dapat digunakan oleh kota tersebut," ujar Suhono, dalam keterangannya, Senin (6/6/2022). 

Enabler, kata dia, teknik atau metode apapun yang memungkinkan terlaksananya
suatu proses atau aktivitas. Sedangkan Process, adalah inisiatif atau kegiatan yang dilakukan oleh enabler. 

"Keberhasilan smart city bukan hanya terletak pada teknologi melainkan melibatkan aspek pengelolaan data. Data adalah sumber daya. Banyak orang belum melihat data itu sebagai modal. Dengan data, kita bisa lakukan keputusan-keputusan yang tepat, sehingga arah kita ke depan lebih baik," katanya. 

Selain SCCIC, proyek ini juga akan melibatkan kolaborasi pemangku kepentingan dari berbagai macam bidang untuk berbagai pandangan dan ide dalam mewujudkan solusi inovatif. 

Kerja sama ini akan menghasilkan analisis dari data-data yang terkumpul dalam tiap bidang berbeda sehingga data yang didapat lebih luas agar dapat mempermudah menentukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah perkotaan khususnya di DKI Jakarta

Sejalan dengan agenda UN 2030 dan SDGs, proyek ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mempromosikan tata pemerintahan yang baik dan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan di Jakarta.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved