Update Kasus Wabah PMK di Kota Bandung, Kepala DKPP Sebut Laporan Wabah Ada Tiga Kecamatan Ini

Kasus wabah penyakit mulut dan kuku terhadap hewan ternak, seperti sapi dan kambing di Kota Bandung pertama kali ditemukan di wilayah Babakan Ciparay

TRIBUNJABAR.ID/TIAH SM
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama


TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap hewan ternak, seperti sapi dan kambing di Kota Bandung pertama kali ditemukan di wilayah Babakan Ciparay.

Dugaannya ada 50 hewan dan 14 ekor yang kemudian diambil sampelnya, karena syarat 10 persen dari koloni per 21 Mei 2022 dan hasilnya terdapat lima ekor yang terkonfirmasi positif PMK.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gingin Ginanjar menyampaikan informasi terbaru.

Menurutnya, dari lima ekor yang terkonfirmasi positif PMK itu, satu ekornya mati, dan satu ekor disembelih bersyarat karena kondisinya semakin parah dan peternak merasa khawatir tak tertolong dan dapat menyebar ke hewan lainnya.


"Sekarang yang terkonfirmasi (PMK) menyisakan tiga ekor dan masih dalam perawatan. Dua hari lalu kami ada informasi ternyata ada juga kasus serupa di Cisurupan menimpa sapi perah dan sapi potong. Kami sudah lakukan pengambilan sampel oleh Balai Veteriner Subang yang di Cisurupan diambil empat sampel, terdiri dari dua sapi perah dan dua sapi potong," katanya saat dihubungi, Kamis (2/6/2022).


Gingin menyebut hasil dari pemeriksaan sampel hewan itu kemungkinan dua sampai tiga hari.

Tak hanya di Babakan Ciparay dan Cisurupan, dia juga mengatakan laporan lain ada di Bandung Kulon dan telah diambil sampel terhadap lima ekor sapi.


"Jadi, kalau dilihat jumlah kecamatannya bertambah menjadi tiga kecamatan, yakni Babakan Ciparay, Bandung Kulon, dan Cibiru. Tim kami secara rutin sampai saat ini berkeliling lakukan pemeriksaan ke semua peternak. Jadi, kalau ada peternak yang punya 50 ekor, maka kami periksa semua lalu jika ada yang terindikasi bergejala awal maka kami konfirmasi ke Balai Veteriner Subang," ucapnya.


Adapun langkah pengawasan yang dilakukan DKPP Kota Bandung, kata Gingin di tingkat kota pihaknya sudah memulai mengawasi hewan-hewan yang masuk, sebab nantinya satgas yang dibentuk salahsatunya kewilayahan (kelurahan dan kecamatan) turut menjaga di wilayahnya.


"Sekarang ada kecenderungan justru distribusi dari luar daerah tak menggunakan jalan besar melainkan ke jalan kewilayahan dan bukan jalan arteri, seperti yang terjadi di Cisurupan. Dari tiga kejadian PMK di Bandung, semua berasal dari pengiriman sapi luar daerah. Intinya, memasukkan diam-diam tanpa ada surat keterangan sehat," katanya seraya menyebut sapi di Babakan Ciparay berasal dari Purwakarta, dan sapi di Cisurupan berasal dari Sumedang juga Majalengka.


Ketika disinggung terkait vaksin terhadap hewan ternak, Gingin mengatakan perihal vaksin kewenangannya ada di pemerintah pusat dan sampai saat ini belum ada satu daerah yang menerima vaksin.


"Informasi terakhir, sebelum Iduladha yaitu sekarang (Juni) akan ada vaksin dari impor tapi itu pun akan diprioritaskan ke wilayah yang sudah terwabah. Nah, untuk vaksin dalam negeri sekarang masih dalam proses pembuatan dan rencananya hadir Agustus," ujarnya.


Menghadapi hari raya Iduladha yang identik dengan berkurban hewan sapi, kambing, dan domba, Gingin menyebut kebutuhannya jika mengandalkan dari peternak Bandung masih kurang. Dia menggambarkan tahun lalu, kurban sapi sebanyak 6000 dan domba 14 ribuan.


"Stok saat normal saja di Bandung hanya 2000 ekor, karena beberapa peternak sekarang mengeluhkan PMK sudah mulai berpengaruh," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved