Masih Ingat Kasus Nagreg yang Bikin Sejoli Meninggal Lalu Dibuang? Pelaku Akan Jalani Sidang Vonis

Kasus kecelakaan di Nagreg, Kabupaten Bandung, yang membuat sejoli kehilangan nyawa, segera berakhir.

Editor: Giri
Kolonel Inf Priyanto, terdakwa kasus kecelakaan dengan korban sejoli Handi Saputra (17) dan Salsabila (14) di Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengaku tidak tahu kalau salah satu korban yaitu Handi, masih hidup atau sudah meninggal saat dibuang ke Sungai Serayu. Hal itu diungkapkan terdakwa Priyanto dalam sidang agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Militer II Jakarta, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (31/3/2022).(KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA ACHMAD) 

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Kasus kecelakaan di Nagreg, Kabupaten Bandung, yang membuat sejoli kehilangan nyawa, segera berakhir.

Setelah tertabrak, sejoli Handi Saputra (17) dan Salsabila (14) kemudian diangkut ke dalam mobil.

Bukannya dibawa ke rumah sakit, keduanya malah dibawa hingga ke Jawa Tengah. Mereka dibuang di Sungai Serayu.

Berdasarkan pemeriksaan, Handi bahkan masih hidup ketika diceburkan.

Setelah menjalani beberapa kali sidang, Kolonel Infanteri Priyanto yang menjadi terdakwa akan berhadapan dengan sidang vonis pada Selasa (7/6/2022).

Jadwal sidang vonis itu disampaikan hakim ketua Brigadir Jenderal Faridah Faisal saat menutup persidangan beragendakan duplik pada Selasa (24/5/2022).

"Sidang saya tunda untuk memberikan kesempatan kepada majelis hakim untuk bermusyawarah dan menyusun putusan sampai dengan Selasa, tanggal 7 Juni 2022," ujar Faridah di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta.

Baca juga: Ruangan Kelas SMPN 3 Cikelet Garut Tiba-tiba Ambruk, Beruntung Tak Ada Siswa di Dalamnya

Oditur Militer Tinggi II Jakarta Kolonel Sus Wirdel Boy berharap hukum dapat ditegakkan saat vonis nanti.

"Berapa pun pidana yang dijatuhkan oleh majelis hakim, nantinya kan masih ada upaya hukum. Ada banding, kasasi, begitu pun dari pihak terdakwa. Jadi saya enggak berharap apa-apa kecuali tegaknya hukum," kata Wirdel.

Dalam sidang duplik, kuasa hukum Priyanto, Letnan Satu Chk Feri Arsandi, mengatakan, terdakwa tidak memiliki niat dan motif membunuh karena tidak kenal dengan kedua korban.

"Terdakwa dan korban Handi Saputra dan Salsabila tidak pernah kenal dan tidak pernah bertemu," ujar Feri membacakan duplik.

Kemudian, kata Feri, antara Priyanto, Handi, dan Salsabila tidak pernah ada suatu permasalahan yang menimbulkan niat bagi terdakwa untuk menghilangkan nyawa keduanya.

Feri melanjutkan bahwa perkara ini murni disebabkan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (8/12/2021).

Atas hal itu, penasihat hukum Priyanto menilai bahwa dalil oditur militer untuk membuktikan adanya unsur pembunuhan berencana sebagaimana Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak ada.

Baca juga: Warga dan TNI di Sukabumi Gerebek Tempat Nongkrong Anak Muda, Diduga Geng Motor, Ditemukan Sajam

Diketahui, Priyanto dituntut pidana penjara seumur hidup dan dipecat atas kasus penabrakan sejoli Handi dan Salsabila di Nagreg.

Tuntutan dibacakan oditur militer di Pengadilan Militer Tinggi II, 21 April 2022.

Priyanto dinilai terbukti secara sah dan menyakinkan bersama-sama melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, melakukan penculikan, dan menyembunyikan mayat.

Priyanto dan dua anak buahnya membuang tubuh Handi dan Salsabila ke Sungai Serayu, Jawa Tengah, seusai menabrak sejoli tersebut di Nagreg. Ia bersama dua anak buahnya, Kopda Andreas Dwi Atmoko dan Koptu Ahmad Soleh, kemudian menjalani persidangan dan menjadi terdakwa. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved