Tujuh Orang Guru Besar Dilantik UPI, Rektor UPI: Semoga Bisa Berprestasi di Keilmuan Masing-masing

Universitas Pendidikan Indonesia mengukuhkan guru besar selama dua hari secara daring untuk para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, keluarga

TRIBUNJABAR.ID/MUHAMAD NANDRI PRILATAMA
Pengukuhan tujuh guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Universitas Pendidikan Indonesia mengukuhkan guru besar selama dua hari pada Rabu (18/5/2022) dan Kamis (19/5/2022) secara daring melalui aplikasi zoom untuk para peserta dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, keluarga, kolega, serta masyarakat di Indonesia.

Bagi para peserta pengukuhan secara offline dilaksanakan terbatas di Gedung Achmad Sanusi sesuai protokol kesehatan yang berlaku.

Pada sesi pertama, pengukuhan guru besar UPI ini mengangkat empat pemikiran, yakni pemikiran dari Prof Dedi Sutedi (guru besar UPI bidang Ilmu Linguistik Bahasa Jepang pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, pemikiran dari Prof Nina Sutresna (guru besar UPI bidang Ilmu Sosiologi Olahraga pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, pemikiran dari Prof A Sobandi (guru besar UPI bidang Ilmu Administrasi Pendidikan pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dam Bisnis), dan pemikiran dari Prof Vanessa Gaffar (guru besar UPI bidang Ilmu Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis.

Selanjutnya, sesi kedua UPI mengangkat tiga pemikiran, yakni pemikiran Prof Janah Sojanah (guru besar UPI bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis), pemikiran Prof Nani Sutarni (guru besar UPI bidang Ilmu Pendidikan Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis), dan pemikiran Prof Nurjanah (guru besar UPI bidang Ilmu Pendidikan Matematika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

 

Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof Karim Suryadi mengatakan empat guru besar sudah menyampaikan kewajibannya serta meniti kehormatannya dalam pengukuhan guru besar di UPI.

Menurutnya, konstruksi status sosial status akademis guru besar dirancang melalui kebersamaan dalam proses intersubjektif.

 

"Aspek pentingnya itu ada tiga hal, yaitu spesialisasi yang kian intens, standarisasi ketat tentang penelitian syarat menjadi profesor, dan budaya kerja yang bisa dikomunikasikan. Jadi, ketiga ini yang melahirkan kode professor melalui kode kewibawaannya terkait dengan atribut profesionalitas dan moralitas hingga integritas dan kepribadian," ujarnya.

 

Prof Karim juga mengajak para guru besar untuk dapat menciptakan, memproduksi, dan membagi pemikiran serta kearifan sesuai bidang keilmuan di ruang terbuka dari berbagai platform untuk memberi kebermanfaatan bagi masyarakat.

 

Selanjutnya, Rektor UPI, Prof M Solehuddin menyampaikan bahwa status guru besar yang telah diraih ketujuh orang ini merupakan pencapaian prestasi bapak/ibu dalam kiprahnya sebagai akademisi di UPI.

Dia berharap prestasi mereka yang direkoginisi pemerintah bisa dapat diwujudkan dalam bentuk etos kerja dan unjuk kerja melalui bidang kepakaran masing-masing sehingga ada tanggung jawab keilmuan dan dapat membina generasi muda di lingkungan UPI.

 

"Setelah pengukuhan ini bapak/ibu bisa melanjutkan tugasnya memberikan manfaat melalui keilmuan yang telah diraih bagi UPI dan masyarakat. Kami juga mengajak para guru besar ini yang miliki prestasi sesuai identitas keahlian dan kepakaran agar dapat disajikan dan dikelola dengan baik agar memberi manfaat bagi masyarakat," ucapnya. (*)

 

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved