Sempat Turun Akibat Pandemi Covid-19 Penjualan Properti Naik Lagi, Prolov Dapat Menjual di Angka Ini

Menurut Direktur Properti Lovers (Prolov), Yoga Gandara, meski industri properti turun akibat pandemi Covid namun permintaannya tetap tinggi

Istimewa
Properti Lovers (prolov) berbagi rejeki Lebaran dengan anak yatim. Direktur PT Prolov, Yoga Gandara mengatakan, berbagi rejeki ini sebagai bagian dari belajar, berbisnis, dan berbagi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama


TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pandemi Covid-19 bukan hanya berdampak pada sektor ekonomi atau wisata, tetapi hampir semua sektor termasuk industri properti pun turut berdampak.

Hal itu pula yang diakui oleh Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jabar, Joko Suranto. 

Meskipun terkena dampaknya, namun Joko sempat menyampaikan pengusaha-pengusaha yang bergerak di bidang industri properti senantiasa berjuang demi bisa bertahan dari gempuran Covid bagaimana pun caranya.


Direktur Properti Lovers (Prolov), Yoga Gandara pun merasakan hal yang sama.

Menurutnya, kondisi properti secara global sangat menurun lantaran pandemi covid.

Tetapi, secara demand atau permintaan kebutuhan properti ini tetaplah tinggi.

"Saya melihatnya pada 2022 pergerakan penjualan properti tinggi sekali. Kami saja dapat menjual minimal 100 properti dalam sebulan. Properti kami sudah menyebar di Jabar hingga Jakarta dan Tangerang," katanya di Jalan Surapati, Kamis (28/4/2022).


Yoga menyebut bahwa peminat properti perumahan biasanya tipe yang paling banyak peminat, di antaranya tipe 21 (rumah subsidi), tipe 36, dan tipe 45. Dia mengaku banyak mengelola rumah subsidi yang bekerjasama dengan perumahan subsidi, seperti 900 unit di Bandung Timur dan 300 unit di Bandung Selatan.


"Ya memang kalau perumahan subsidi itu terbatas jumlahnya. Bahkan, sekarang lokasi rumah subsidi sudah bergeser ke pinggiran, seperti dahulu bisa membeli di wilayah Padalarang atau Jatinangor. Tapi, sekarang sudah sampai ke wilayah Cicalengka, Sumedang, atau Bandung Selatan, semisal Majalaya dan Banjaran," katanya seraya mengatakan peminatnya ialah 50 persennya warga Kota Bandung.


Dia juga menilai berdasarkan riset yang sempat dirilis oleh Kompas menyebut bahwa kaum milenial sangat terancam tak bisa membeli properti rumah lantaran beberapa faktor, seperti gaya hidup, kesadaran membeli properti rendah, dan lebih senang ke hal leisure.


"Dari tahun ke tahun kalau rumah subsidi itu semakin menjauh jaraknya. Nanti Bandung pun akan seperti Jakarta yang banyak orang membeli rumah ke wilayah Depok dan sekitar, begitu pula Bandung nanti bisa saja orang membeli rumahnya ke wilayah Garut," ujarnya.


Adapun demand atau permintaan properti sebanyak 2,4 juta jiwa untuk kebutuhan properti.

Tetapi, itu belum terpenuhi di wilayah Bandung Raya. Sedangkan pemerintah hanya baru mampu menyediakan 600 ribu unit per tahun. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved