Breaking News:

Mobil Odong-odong atau Kereta Wisata Desa, Prospek Geliat Wisata Desa Jawa Barat

Anggota DPRD Jabar Tina Woryawati menyebut odong-odong atau kereta wisata desa bisa menjado prospek geliat wisata desa Jawa Barat

Mobil Odong-odong atau Kereta Wisata Desa, Prospek Geliat Wisata Desa Jawa Barat
istimewa
Anggota DPRD Jabar, Hj. Tina Wiryawati

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Sektor pariwisata telah dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu roda utama pengungkit ekonomi provinsi sampai tingkat desa.

Selama masa pandemi pun, sektor pariwisata terbukti tetap menjadi primadona, utamanya bagi wisatawan lokal.

Pada prakteknya di lapangan, sektor pariwisata di alam terbuka, pelosok desa atau yang dikenal dengan sebutan hidden gems, tidak dapat luput transportasi umum.

Sebut saja ontang-anting, shuttle, ojek wisata, sampai kereta wisata, sudah lazim ditemui di sejumlah kawasan wisata.

Hal serupa tengah tumbuh di kawasan wisata desa yang mulai banyak bermunculan di Jabar, di antaranya melalui mobil odong-odong atau kereta wisata desa.

Kendaraan modifikasi ini telah muncul di kawasan wisata Kabupaten Kuningan sampai Pangandaran.

Anggota DPRD Jabar, Hj. Tina Wiryawati, mengatakan sejak beberapa tahun terakhir, jumlah mobil odong-odong ini semakin banyak.

Mereka beroperasi menjadi angkutan wisata di berbagai objek wisata di Jabar.

"Menjelang liburan lebaran ini, pasti odong-odong akan ramai dengan momen mudiknya masyarakat. Karena odong-odong juga dipakai sebagai kereta wisata desa untuk transportasi dari dan ke tempat-tempat wisata," kata Tina, Minggu (24/4).

Ia mengatakan tidak jarang pelaku odong-odong ini malah menjadi agen pemasaran desa-desa wisata di daerah pemilihannya, yakni Kuningan, Ciamis, Pangandaran, dan Banjar. Mereka sudah lekat dengan kesan kegembiraan masyarakat.

"Kita temui odong-odong ini sebagai marketingnya tempat-tempat wisata atau desa-desa wisata di daerah-daerah. Bahkan menjadi daya tarik tersendiri," katanya.

Uniknya, kata Tina, setiap odong-odong ini memiliki corak dan bentuk beragam, sesuai kreatifitas orang yang melakukan modifikasinya.

Hal ini pun yang memungkinkan setiap odong-odong dapat menjadi ciri khas suatu daerah, desa, atau tempat wisata.

"Sehingga akan menarik bagi daerahnya sendiri, dan setiap daerah akan memiliki ciri khas tersendiri, bisa menjadi ikon masing-masing daerah," katanya.

Itulah sebabnya, kata Tina, odong-odong ini harus segera mendapatkan legalitas dan pengaturan dari pemerintah supaya keamanan penumpangnya terjamin, sekaligus para pengusahanya dapat dengan tenang ikut memajukan pariwisata di daerah.

"Selain adanya lapangan kerja untuj para drivernya, juga menjadi bagian terpenting untuk masyarakat desa itu sendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan pariwisata. Ini sudah menjadi kepentingan orang banyak," katanya.

Tina menyayangkan hingga hari ini kejelasan legalitas dari kementerian terkait maupun kepolisian terkait izin odong-odong tidak juga terbit. Sehingga terkesan angkutan umum alternatif odong-odong tersebut bisa dibilang liar tanpa perlindungan.

Padahal odong-odong yang lahir melalui kreativitas masyarakat desa, kata Tina, mampu menjadi pengungkit pariwisata desa di masa pemulihan ekonomi yang terdampak Covid-19.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved