Breaking News:

Tradisi Menyambut Ramadan di Lembang, Potong Kambing Untuk Hilangkan Sifat Binatang di Diri Manusia

Di Puncak Gunung Batu ini, warga menggelar doa bersama, kemudian langsung memotong seekor kambing oleh tokoh budaya

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Sejumlah warga saat menghadiri penyembelihan kambing dalam acara syukuran menyambut Ramadan di Puncak Gunung Batu, Kampung Buniasih, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (31/3/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT- Suara kesenian reak mengiringi prosesi penyembelihan kambing dalam acara syukuran menyambut Ramadan di Puncak Gunung Batu, Kampung Buniasih, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (31/3/2022).

Sebelum acara dimulai, ratusan warga membawa seekor kambing untuk dipotong lalu mengubur kepala kambing serta sesaji lainnya yang diarak dari Kampung Buniasih menuju puncak Gunung Batu.

Di Puncak Gunung Batu ini, warga menggelar doa bersama, kemudian langsung memotong seekor kambing oleh tokoh budaya sebagai ungkapan syukur menjelang masuknya bulan suci Ramadhan.

"Motong embe (kambing), tumbal, tujuannya permintaan keberkahan bagi warga, keselamatan, khususnya untuk warga Langensari dan umumnya semuanya," ujar Kuncen Gunung Batu, Ujang (53), saat ditemui di lokasi.

Acara syukuran ini digelar di puncak Gunung Batu karena gunung itu dipercaya memiliki histori dan untuk menghormati leluhur. 

Baca juga: Dhini Aminarti dan Dinda Hauw Hidupkan Harapan 1.000 Santri dan UMKM Perempuan Selama Ramadan 1443 H

"Pemotongan seekor kambing berwarna hitam ini dapat menjadi tolak bala masyarakat sekitar. Kegiatan ini biasa dilaksanakan menjelang shaum, kebiasaan adat, budaya dan tradisi warga kampung ini," katanya.

Tokoh Masyarakat sekaligus Budayawan Lokal, Mas Nanu Muda (60), menambahkan, tujuan penyembelihan kambing hingga mengubur bagian kepala dan kaki ini untuk membunuh sifat-sifat binatang yang ada di dalam diri manusia.

"Kenapa yang dikuburnya kepala dan kaki? Karena segala pikiran negatif adanya di kepala dan berjalan dengan kaki, kalau bagian lainnya (kambing) dikonsumsi," ucap Nanu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bandung Barat, Heri Partomo, menyatakan mendukung upaya warga dalam mengadakan acara itu karena tujuannya untuk melestarikan budaya.

"Ke depan, kami bterus menggali potensi budaya di masyarakat. Terutama ritual di Bandung Barat, pada prinsipnya kami mendukung. Kami komunikasi dengan kepala desa, sesepuh untuk menggali budaya yang ada di wilayahnya, baik ritual, maupun lainnya," kata Heri.

Tidak hanya itu, Disparbud Bandung Barat juga akan mendukung secara penuh baik secara moril maupun materil untuk setiap kegiatan budaya yang dilaksanakan oleh warga dan tokoh masyarakat.

"Kami akan dukung karena kegiatan yang digelar oleh pemerintah desa maupun RW, belum didukung sepenuhnya oleh pemda. Hal ini upaya kita dalam pelestarian potensi budaya di Bandung Barat," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved