Belum Dipakai, Jembatan Pelabuhan Nelayan Senilai Rp 1,4 Miliar di Batu Karas, Pangandaran Ambruk

Belum sempat dimanfaatkan para nelayan, jembatan pelabuhan nelayan Sanghiangkalang di Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, ambruk

Penulis: Padna | Editor: Darajat Arianto
ISTIMEWA/AGUS
Jembatan pelabuhan nelayan Sanghiangkalang di Batukaras, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, ambruk, Minggu (27/3/2022). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN  - Belum sempat dimanfaatkan para nelayan, jembatan pelabuhan nelayan Sanghiangkalang di wilayah Batu karas, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, ambruk.

Informasi yang diterima Tribunjabar.id, jembatan pelabuhan nelayan yang sudah menyerap anggaran sampai Rp 1,4 miliar dan dibangun pada tahun 2021 akhir, ambruk dihantam ombak pada Kamis (24/3/2022).

Satu warga sekaligus pengurus Rukun Nelayan (RN) di Desa Batu karas, Kusmawan, menyampaikan, bahwa sebelumnya Ia apresiasi adanya proyek pembangunan jembatan dermaga nelayan tersebut.

"Kami, selaku nelayan Batukaras sangat mengapresiasi, karena sesuai dengan konsep awal yang tentu akan menunjang pada usaha nelayan," ujarnya saat ditemui sejumlah wartawan di sekitar lokasi jembatan yang ambruk di  Batukaras, Sabtu (26/3/2022) siang.

Namun, sangat disayangkan karena proyek jembatan dermaga nelayan tersebut belum juga dimanfaatkan tapi sudah ambruk.

"Kami belum sempat coba, tapi sudah ambruk saat laut sedang pasang. Mungkin, waktu pasang terus mungkin dihantam ombak dan ambruk pada hari Kamis (24/3/2022) kemarin. Saat itu, memang ombaknya lagi pasang," katanya.

Namun, kata Ia, kalau perencanaan dan pekerjaannyanya sesuai Ia mengira bangunan jembatan tersebut akan kokoh.

"Awalnya, Saya pikir jembatan tersebut akan lurus ke tengah lebih dulu. Sehingga, nantinya bisa di gunakan untuk sandaran perahu nelayan, ya seperti di pelabuhan Bojongsalawe," kata Kusmawan sambil membandingkan jembatan pelabuhan nelayan yang ambruk di Batukaras dengan dermaga di Bojongsalawe.

Selain itu, Ia menduga ambruknya jembatan pelabuhan nelayan tersebut karena dikerjakan dengan asal asalan.

"Selain tiang pancang yang kurang dalam, juga pancangnya terlalu jarang," katanya.

Menurutnya, kedalaman tiang pancang di jembatan yang ambruk itu paling hanya 2 meter.

"Karena, di area itu kan ada batu cadas, terus jarak tiang pancang itu 4 meter dengan lebar jembatan 3 meter. Yang akhirnya, tidak kuat menahan beban berat tembok cor dan hantaman ombak," ujar Ia. 

Melihat kontruksi bangunan seperti itu, tambah Ia, para nelayan pun sudah memprediksi bahwa bangunan ini tidak akan bertahan lama.

"Ya, meskipun saya bukan ahli kontruksi," kata Kusmawan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved