Komikus Lokal Sulit Bersaing, Ini Kendalanya Menurut Sesepuh Komikus Jawa Barat
Komikus lokal sulit berkembang. Satu di antara faktornya, lantaran tidak memiliki jaringan luas serta modal untuk melakukan promosi dan distribusi.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Komikus lokal sulit berkembang. Satu di antara faktornya, lantaran tidak memiliki jaringan luas serta modal untuk melakukan promosi dan distribusi.
Hal itu diungkapkan sesepuh komikus Jawa Barat Handi Yawan saat peluncuran komik Antologi Cergam, Treasure of Nusantara di Jalan Hasanudin, Kota Bandung, Sabtu (19/3/2022).
Pilihan paling realistis para komikus saat ini, kata dia, membuat karya untuk kolektor yang tidak terjangkau masyarakat luas.
"Memang para kolektor ini berani membayar mahal untuk komik-komik lokal ini. Bahkan harganya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per komiknya, termasuk packaging dan merchandise di dalamnya," ujar Handi.
Sedangkan untuk karya yang dapat dibaca orang dengan harga terjangkau, komikus lokal ini sulit berkembang.
Ini karena distribusi dan promosinya membutuhkan modal yang besar.
"Misalnya saya, paling saya menerbitkan 100 eksemplar komik. Itu pun tidak tahu apakah dalam dua hingga tiga bulan laku semua atau tidak. Berbeda dengan penerbit besar yang banyak menerbitkan komik dari luar. Jadi, meski komik tersebut belum diluncurkan, namun karena promosi dan jaringan tadi, sudah banyak yang pre-order sehingga malah sudah habis sebelum diluncurkan," ucapnya.
Meski sudah tahu kondisinya, Handi tetap meluncurkan karya-karya komikus lokal yang dapat dijangkau masyarakat.
"Jadi, untuk komik ini sedikitnya ada lima penulis dan ilustratornya. Terdiri atas berbagai genre yaitu thriler, komedi, sci-fi, tragedi percintaan, dan petualangan. Penerbitnya kami dari Handal Maker," katanya.
Sebelumnya, Handi diketahui telah menerbitkan komik superhero berjudul Lad Lizaro.
Lad Lizaro ini terbit tahun 2014 dan mendapatkan penjualan yang memuaskan.
Tokoh keturunan Tionghoa, pencinta budaya Sunda, Sugiharto Gandamihardja, mendukung terbitnya komik tersebut.
Menurut Sugih, diharapkan melalui komik budaya Sunda akan lebih dikenal khususnya bagi generasi muda.
Meski komik edisi pertama ini bersifat global namun Sugih berjanji akan menjadi narasumber untuk kisah yang berhubungan dengan kesundaan pada edisi selanjutnya.
"Yang sekarang fokusnya Nusantara, ke depan saya akan bantu dengan unsur Sunda di dalamnya," ujar Sugih. (*)