Harus Sabar dan Telaten Saat Menyusui dan Memberi Makan Bayi Bibir Sumbing, Ini Kata Dokter

Menurut dokter spesialis anak, Julistio Djais, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memberi makan anak penyandang bibir sumbing.

Penulis: Tiah SM | Editor: taufik ismail
Istimewa
100K Surgery Celebration-Creating Smiles with Smile Train Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ada beberapa teknik menyusui bagi ibu yang memilik anak dengan bibir sumbing dan atau celah langit-langit mulut.

Dokter Spesialis anak, Julistio Djais mengatakan, bayi yang mengalami bibir sumbing agar disuapi secara perlahan atau  menggunakan selang dan terpenting tetap memberikan asupan nutrisi yang baik.

Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah memberi makan anak harus dengan kesabaran dan tidak memaksa.

“Memberi makan harus dengan cara yang benar dan tidak memaksa. Karena dengan memaksa bisa berakibat anak memiliki perilaku makan yang tidak baik,” Julistio dalam acara 100K Surgery Celebration-Creating Smiles with Smile Train Indonesia, Kamis (10/3/2022).

Masih kata Julistio, setelah 6 bulan asupan bayi adalah air susu ibu (ASI) ekslusif, bayi bisa mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI).

“MPASI yang diberikan kepada anak harus simpel namun mengandung semua nutrisi. Baik itu protein hewani, protein nabati, karbohidrat, sayur dan buah dianjurkan memberi makanan yang lembek,” tegasnya.

Ditempat yang sama Country Manager dan Program Director Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengatakan, selama 20 tahun beroperasinya Smile Train, ia melihat langsung bagaimana permasalahan bibir sumbing dan atau celah langit-langit mulut kerap dihadapi oleh anak-anak Indonesia di berbagai daerah, dan berbagai tingkatan ekonomi.

“Sejak tahun 2002, kami telah menyaksikan langsung bahwa edukasi dan akses terhadap fasilitas kesehatan kerap menjadi kunci agar kondisi sumbing bisa mendapat perawatan yang tepat. Maka, 100.000 operasi yang kita selebrasikan hari ini, tentunya tidak akan terwujud tanpa dukungan dari seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya.

Sementara itu, Ruth Advencya Monalisa selaku Program Director Smile Train Indonesia mengatakan, pihaknya terus berupaya melakukan edukasi bagi pasien beserta keluarga pasien dalam memberikan nutrisi yang tepat demi tumbuh kembang yang baik bagi sang pasien.

“Untuk melakukan pendampingan ke anak itu, tidak hanya orang tua dari kita juga Smile Train dan rekan mitra kami terus berupaya mensosialisasikan kepada keluarga pasien agar perawatan dan pemberian asupan gizi bisa dilakukan secara optimal,” ujar Ruth .

Ruth menjelaskan, asupan nutrisi kepada pasien sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, lanjut dia, operasi perawatan dan pemulihan bibir sumbing dan celah langit-langit sangat bergantung pada kondisi kesehatan pasien untuk bisa dilanjutkan ke proses operasi.

“Bahwa operasi sumbing itu untuk bibir dimulai dengan usia dari minimal 3 bulan, berat badan minimal 5 kilogram dan ada pemeriksaan hemoglobin minimal 10 dan lainnya. Yang membuat kita sedih adalah banyak anak datang dengan berat badan yang kurang,” ujarnya.

Faktor penyebab kekurangan nutrisi, jelas Ruth, selain minimnya kadar nutrisi yang didapat oleh pasien, cara dan proses pemberian nutrisi yang tepat menjadi salah satu kendala banyaknya pasien yang kekurangan nutrisi. Seperti cara pemberian ASI, pengganti ASI dan makanan pendukung ASI.

Maka dari itu, Ruth berharap dengan adanya capaian 100.000 operasi bibir sumbing gratis ini bisa melakukan edukasi dan sosialisasi lebih luas ke seluruh pelosok Indonesia tentang pemberian nutrisi yang tepat bagi anak dengan kondisi tersebut.

Untuk diketahui, Smile Train Indonesia merupakan bagian dari organisasi nirlaba terbesar di dunia yang berfokus pada bantuan perawatan bibir sumbing dan celah langit-langit mulut yang saat ini telah beroperasi di Indonesia lebih dari dua dekade.

Selain itu, Smile Train memecahkan rekor MURI untuk Operasi Sumbing Terbanyak Pada tahun 2021 dan saat ini Smile Train Indonesia telah bermitra dengan lebih dari 500 rumah sakit, lebih dari 100 dokter, pekerja sosial, dan juga didukung oleh TNI dan POLRI untuk menjangkau lebih banyak pasien di seluruh Indonesia.

Baca juga: Tiap Tahun di Indonesia, Lahir Hingga 9.000 Bayi dalam Kondidi Bibir Sumbing

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved