Mahasiswa ITB Ciptakan Teknologi untuk Industri Rumahan di Desa
Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), menciptakan teknologi untuk membantu produksi para pelaku UMKM
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), menciptakan teknologi untuk membantu produksi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Ada tiga produk teknologi yang dikenalkan kepada para UMKM, yakni mesin perajang endapan sagu tapioka, mini screenhouse portable berbasis arduino, dan instalasi pengolahan ilmbah (IPAL) portable.
Ketiga alat itu dapat membantu produksi para pelaku usaha rumahan, satu di antaranya di bidang produksi tapioka.
Sagu tapioka yang dikeringkan menggunakan mini screenhouse dapat mempercepat pengeringan dengan tetap menjaga kualitasnya.
Ketua Kepala Teknologi Tepat Guna Rumah Amal, Abdul Aziz, mengatakan, teknologi tersebut sudah disosialisasikan kepada para pelaku UMKM rumahan di di Kampung Tarikolot, Bogor.
"Dalam kunjungan itu, mahasiswa yang tergabung dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melakukan sosialisasi sekaligus mengimplementasikan penggunaan teknologi produksi tapioka kepada pelaku industri," ujar Abdul Aziz dalam keterangannya, Jumat (25/2/2022).
Rumah Amal Salman, kata dia, memiliki konsentrasi pada program pengembangan teknologi menjadi penghubung antara kaum akademisi dengan desa.
Rumah Amal mendampingi mahasiswa dalam pembuatan teknologi, sekaligus menjadi pemodal awal dalam pembuatan produk teknologi untuk industri rumahan di desa.
"Sudah saatnya mahasiswa mempertajam empati dan menerapkan keilmuannya untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh masyarakat, terutama industri rumahan di desa," katanya.
Salah satu pemilik industri rumahan, Gito mengaku, sagu tapioka yang dikeringkan menggunakan miniscreenhouse lebih cepat kering.
Meski alat pengering terbilang sederhana, teknologi seperti ini, kata dia, memang sangat dibutuhkan oleh para pelaku industri rumahan.
"Apalagi ketika memasuki musim penghujan, langit seringkali mendung dan tidak ada terik matahari, jadi penjemuran tapioka menghabiskan waktu hampir seharian," ujar Gito.
Kondisi itu, kata dia, tentunya sangat berdampak pada produktivitas produksi yang dihasilkan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/mahasiswa-fakultas-teknik-mesin-dan-dirgantara-ftmd-institut-teknologi-bandung-itb.jpg)