Vladimir Putin Umumkan Rusia Akui Kemerdekaan Republik Donbass, Minta Ukraina Hentikan Permusuhan

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan negaranya mengakui kemerdekaan Republik Donbass yang terdiri dari Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Lugansk.

Editor: Ravianto
AFP
Prajurit Pasukan Militer Ukraina berjalan di garis depan dengan separatis yang didukung Rusia di dekat Novohnativka, wilayah Donetsk, pada 20 Februari 2022. Pemantau OSCE mencatat lebih dari 1.500 pelanggaran gencatan senjata yang diduga berlaku di garis depan di timur Ukraina pada 24 Februari. jam, mereka mengumumkan dalam sebuah pernyataan, rekor tahun ini. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNJABAR.ID, MOSCOW - Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan negaranya mengakui kemerdekaan Republik Donbass yang terdiri dari Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR).

"Saya menganggap perlu untuk membuat keputusan yang seharusnya dibuat sejak lama, untuk segera mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk," kata Putin.

Vladimir Putin, Presiden Rusia. Rusia menganggap Amerika Serikat dan Republik Ceko sebagai negara yang tidak bersahabat. (AFP PHOTO/MIKHAIL KLIMENTYEV)
Vladimir Putin, Presiden Rusia. Rusia menganggap Amerika Serikat dan Republik Ceko sebagai negara yang tidak bersahabat. (AFP PHOTO/MIKHAIL KLIMENTYEV) ()

Dikutip dari laman Sputnik News, Selasa (22/2/2022), ia menandatangani dokumen terkait dan meminta Majelis Federal Rusia untuk mendukung penandatanganan perjanjian kerja sama dengan kelompok Donbass yang memisahkan diri dari Ukraina.

Putin pun meminta Ukraina untuk segera menghentikan permusuhan terhadap negara-negara yang baru saja diakui kemerdekaannya ini.

"Jika tidak, semua tanggung jawab atas kemungkinan kelanjutan pertumpahan darah akan sepenuhnya berada di tangan hati nurani rezim yang berkuasa di Ukraina," kata Putin.

Sebelumnya pada hari itu, dalam sesi darurat Dewan Keamanan Rusia, Putin berkonsultasi dengan para menteri, pejabat keamanan senior, dan anggota pemerintahannya untuk menyampaikan pandangan mereka tentang masalah tersebut dan potensi implikasi politik, ekonomi serta strategisnya.

Ribuan Wanita dan Anak-anak Kabur ke Rusia

Sebelumnya diberitakan, sekitar 30.000 orang telah melintasi perbatasan Rusia dari Donbass selama satu hari terakhir.

Mayoritas pengungsi dari wilayah itu adalah anak-anak.

Eskalasi militer yang sedang berlangsung di Donbass menyebabkan ribuan penduduk lokal melarikan diri melintasi perbatasan ke Rusia.

Pada Jumat lalu, pihak berwenang di Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) yang memproklamirkan diri 'merdeka dari Ukraina' itu mengumumkan proses evakuasi kaum perempuan dan anak-anak.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (21/2/2022), menurut departemen keamanan perbatasan Dinas Keamanan Federal Rusia untuk Oblast Rostov, sekitar 30.000 orang dari republik-republik yang memproklamirkan diri itu telah melintasi perbatasan ke Rusia pada hari terakhir.

Mayoritas pengungsi atau sekitar 60 persen merupakan anak-anak.

Baca juga: Rusia dan Ukraina Semakin Tegang, Sejumlah Maskapai Hentikan Penerbangan ke Kiev

Kepala DPR, Denis Pushilin juga menyatakan bahwa aksi pemboman mobil yang terjadi baru-baru ini di Donetsk diklaim sebagai tanda persiapan yang ditunjukkan Ukraina untuk melancarkan serangan militer ke wilayah Donbass.

Situasi di Donbass pun telah memburuk dalam beberapa minggu terakhir, dengan pasukan pemerintah Ukraina diduga menembaki sasaran sipil di wilayah tersebut.

Pushilin menilai bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan memerintahkan serangan terhadap republik yang memproklamirkan diri 'merdeka' itu dalam waktu dekat.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved