Minggu, 3 Mei 2026

Pedagang Tahu Tempe di Bandung Barat Mogok Berjualan, Pedagang Gorengan Ikut Terimbas

Puluhan pedagang tahu dan tempe yang berjualan di Pasar Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), melakukan aksi mogok berjualan.

Tayang:
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Giri
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Pedagang di Pasar Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, saat merapikan tempe yang dijualnnya, Senin (21/2/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Puluhan pedagang tahu dan tempe yang berjualan di Pasar Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), melakukan aksi mogok berjualan, Senin (21/2/2022).

Aksi tersebut dilakukan menyusul adanya aksi mogok produksi perajin tahu tempe di Pulau Jawa sebagai respons kenaikan harga kedelai yang kini mencapai Rp 12 ribu per kilogram. 

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Tagog Padalarang, Yayan, mengatakan, pedagang tahu tempe yang melakukan aksi mogok berjualan kali ada 62 pedagang.

Mereka melakukan itu karena ada aksi sweeping dari sesama pedagang untuk memastikan mogok berjualan.

"Pedagang tahu jumlahnya 29, sedangkan pedagang tempe ada 33 orang. Jadi semuanya 62 pedagang yang ada di Pasar Tagog. Seluruhnya berhenti karena ada sweeping dari sesama pedagang dan perajin tahu tempe," ujar Yayan di Pasar Tagog Padalarang, Senin (21/2/2022).

Aksi mogok berjualan dari pedagang tahu tempe di Pasar Tagog tersebut, kata dia, bakal menyesuaikan dengan rencana mogok di Pulau Jawa yakni 21-23 Februari 2022. 

"Lanjut atau tidaknya aksi mogok berjualan ini, nantinya bakal mengikuti keputusan paguyuban perajin tahu tempe di tingkat Provinsi Jawa Barat," kata Yayan.

Akibat aksi mogok penjual tahu tempe ini, penjual gorengan turut terimbas.

"Karena selama ini saya selalu membuat gorengan gehu dan tempe sebagai jualannya selain bala-bala (bakwan)," ucap seorang penjual gorengan di Pasar Tanimulya, Suhendar (33).

Suhendar mengatakan, dia membeli 100 biji tahu ukuran kecil dan dua pak tempe seharga Rp 7.000 per pak sebagai bahan membuat gorengan saat kondisi normal. 

Namun, untuk saat ini Suhendar mengaku tidak sempat menyimpan stok barang karena pada saat belanja hari Minggu sudah kehabisan.

"Ya kalau gini, saya juga rugi, omzet jadi turun karena jualan gorengan hanya satu macam. Biasanya suka dapat Rp 500 ribu per hari kotor, tapi kalau kondisi gini jadi turun sampai setengah," kata Suhendar. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved