Tip dari Dokter Agar Virus Corona Tak Betah Bertahan di Tubuh, Satu di Antaranya Puasa hingga 20 Jam
Berbagai tip beredar agar cepat sembuh dari paparan Covid-19. Dokter Piprim Basarah Yanuarso dari RSCM pun membagikan trik agar cepat terbebas.
TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Berbagai tip beredar agar cepat sembuh dari paparan Covid-19. Dokter Piprim Basarah Yanuarso dari RSCM pun membagikan trik agar cepat terbebas dari paparan virus corona.
Virus SARS-Cov-2 atau Covid-19 menyerang dengan cepat di dalam tubuh manusia, sehingga membuat si pasien akan cepat parah jika tidak tahu penanganannya.
Bagaimana cara membuat virus Covid-19 tidak betah di dalam tubuh yang sedang sakit?
Masyarakat yang memiliki gejala ringan dan yang tidak bergejala atau OTG, diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.
Ini dimaksudkan agar orang-orang yang memiliki kondisi infeksi Covid-19 parah atau mempunyai komorbid (penyakit bawaan), dapat dirawat secara intensif di rumah sakit.
Selama melakukan isolasi mandiri, masyarakat bisa melakukan konsultasi dengan layanan telemedisin yang telah disediakan oleh Kementerian Kesehatan.
Melalui layanan tersebut, masyarakat yang terpapar Covid-19 dan sedang isoman, juga dapat mengakses paket obat yang diberikan secara gratis.
Selain mengonsumsi obat dan multivitamin yang sudah diresepkan, terdapat pengobatan alami untuk mendukung proses pemulihan pasien Covid-19 yang sedang isoman.
Menurut dr Piprim Spesialis Anak di RSCM agar virus covi-19 tidak betah di dalam tubuh manusia maka harus dikalahkan dengan dua cara, apa saja?
1. Puasa
Virus Covid berkembang biak di dalam tubuh manusia membajak makanan
Virus covid berkembang biak karena adanya glukosa (gula) di dalam tubuh
“Virus ini menggila dengan ada glukosa dalam tubuh,” ujar dr Piprim B Yanuarso spesialis Anak di RSCM Jakarta
Bayangkan saja satu sel saja kalau dibajak menghasilkan bisa 400 ribu hingga 1 juta anak virus dalam waktu beberapa jam.
Ini luar biasa gilanya virus itu. Butuh stategi biar virus covid tidak berkembang dengan cepat
Begitu merasa gejala terkena virus corona seperti demam, batuk, enggak enak badan, ngilu segera tidur karena dengan tidur akan membuat imunitas tubuh jadi siaga.
Selain itu pasien covid saat pertama kali terkena maka jangan terlalu banyak makan.
"Pada saat pembajakan virus di awal justru harus banyak puasa, agar virusnya tidak dapat makan. Lalu bagaimana kondisi pasien yang sakit? Maka pasien bisa bertahan dari cadangan lemak," ujar dr Piprim dalam rekaman suara yang viral di Whatapp.
Puasa yang baik dilakukan selama 16-20 jam
2. Setop makan gula
Bagaimana kalau lapar? karena virus ini hanya makan gula untuk berbiak maka konsumsi lauk saja atau protein seperti ikan, ayam, bebek, daging dll tanpa roti, mi, nasi, buah manis dan minuman manis .
Hindari susu, kurma, madu karena di awal makanan ini justru bisa dimakan virus untuk berbiak
Dengan strategi ini virus tidak akan bereplikasi secara menggila maka dalam 2-3 hari.
Lalu masa penyembuhan itu tiba saat mulai timbul nafsu makan barulah bisa makan banyak tapi tetap mengurangi jumlah karbohidratnya. Lebih banyak protein untuk membentu antibodi.
Setelat hasil swab negatif bisa makan bebas seperti biasa.
Konsumsi karbohidrat baru boleh dilakukan ketika gejala-gejala awal Covid-19 sudah mulai tidak dirasakan lagi oleh pasien.
“Dengan strategi ini, Insya Allah nanti virusnya tidak jadi bereplikasi secara menggila. Nanti dalam 2-3 hari ketika pasca recovery tiba, yaitu pada saat kita mulai timbul nafsu makan dan gejala-gejala itu mulai hilang, barulah kitab oleh makan banyak.
Tapi tentu tetap dikurangi jumlah karbohidratnya, utamakan proteinnya untuk membuat antibodi. Nanti 2 atau 3 minggu setelah swab-nya negatif, boleh makan bebas seperti biasa,” pungkasnya.
Ia menceritakan, ketika dirinya, istri, ibu yang berusia 75 tahun, serta empat orang anaknya tertular Covid, menerapkan teori ini maka saat hari kelima melakukan swab PCR hasilnya negatif
"Saya, istri, ibu berusia 75 tahun, dan 4 anak waktu tertular covid menerapkan teori ini dan hari ke 5 swab ulang negatif," ungkap dia.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah tidak mengomsumsi minuman manis atau buah manis seperti susu, kurma,madu.
"Jangan dimakan di awal-awal kan ini bisa dimakan oleh virusnya dalam 2-3 hari. Misalnya ketika recovery, saat timbul nafsu makan dan gejala-gejala itu sudah menghilang tubuh kita merasa enak barulah kita boleh makan banyak, tapi tentu tetap dikurangin karbohidratnya. Utamakan proteinnya untuk membuat antibodi," kata dia.
Setelah seminggu atau dua minggu atau setelah swab negatif barulah boleh mengomsumsi apa saja seperti biasa.
Mirip Flu, Kenali Gejala Khas Omicron
Gejala Covid-19 varian Omicron mirip dengan sakit flu. Apa yang membedakan?
Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan mengatakan gejala pada pasien Omicron hampir sama dengan flu.
Adapun gejala khas pada pasien Omicron adalah nyeri atau gatal pada tenggorokan.
"Memang gejalanya mirip flu dan khas kalau flu itu jarang sakit tenggorokan, nyeri tenggorokan. Kalau pada Covid-19 sampai 60 persen rata-rata itu berhubungan dengan saluran nafas mulai dari gatal tenggorokan sampai nyeri," ungkap Erlina.
Setelah mengalami nyeri tenggorokan maka akan menjadi batuk kering disertai dengan hidung tersumbat atau pilek.
Dokter paru di RSUP Persahabatan ini mengatakan, berdasarkan pengamatan pada 17 pasien probable Omicron dan Omicron di RSUP Persahabatan pasien mengalami gejala sebagai berikut: batuk kering, nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, serta demam.
"Jadi memang mirip influenza dengan ada juga tambahannya nyeri kepala dan badannya lemas," kata dia.
Untuk itu, saat sedang flu memakai masker bersifat wajib.
Erlina Burhan juga mengingatkan, agar tak menganggap enteng flu, terutama pada lansia atau kelompok komorbid.
Kelompok lansia dan komorbid, disarankan segera mendatangi layanan kesehatan terdekat untuk memeriksakan diri sebelum menjadi fatal.
"Jangan terlalu menganggap enteng flu terutama kepada orang tua atau orang-orang dengan komorbid yang tidak terkendali atau penyakit bawaan yang tidak terkendali karena penyakit bawaan yang tidak terkendali itu akan menurunkan sistem pertahanan sistem imunitas tubuh, sehingga bisa terjadi pemburukan," tutur Erlina dalam kegiata virtual beberapa waktu lalu. (*)
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Mau Cepat Sembuh dari Covid19 ? Stop Makan Gula dan Lakukan Puasa!