Pemerintah Disebut Sulit Tegas dalam Menindak Perusahaan Perusak Lingkungan, Ini Alasannya

Bhima Yudhistira menyebut pemerintah sulit tegas dalam menindak perusahaan perusak lingkungan karena berkaitan dengan sistem ekonomi politik. 

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Tribunnews.com
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyebut pemerintah sulit tegas dalam menindak perusahaan perusak lingkungan karena berkaitan dengan sistem ekonomi politik. 

Hal itu diungkapkan Bhima dalam satu diskusi virtual via Zoom yang berjudul "Kerusakan Lingkungan Hidup, Kerugian Negara, dan Tindak Pidana Pencucian Uang." 

Saat ini, kata dia, kerusakan lingkungan hidup terus menjadi sorotan publik.

Apalagi, beberapa hari ini sedang ramai berita terancamnya kelestarian lingkungan warga Desa Wadas, Jawa Tengah. 

Menurut Bhima, sejumlah pejabat diduga memiliki saham, berkuasa terhadap manajemen, duduk sebagai direksi, dalam perusahaan ekstraktif seperti batu bara dan kelapa sawit. 

Hal ini berpengaruh dalam pengawasan di level daerah saat ada dugaan kerusakan lingkungan.

Sehingga ada rasa sungkan untuk melakukan pengawasan. 

Hal lain yang ia soroti adalah hubungan yang kuat antara sektor esktraktif dengan kemunculan dari perusahaan-perusahaan digital, ventur-ventur kapital, dan perusahaan start-up atau rintisan. 

Ia mengkhawatirkan adanya modus pencucian uang di banyak negara, seperti Jepang, Cina, dan Eropa, menggunakan uang hasil dari ekstraktif untuk diputar ke perusahaan-perusahaan modal ventur asing, kemudian disuntikkan ke perusahaan startup dalam negeri.  

"Oleh karena itu KPK dan PPATK akan kesulitan melakukan penelusuran.Apalagi bila benar tidak terdaftar secara resmi, bisa jadi perusahaan yang mengaku modal ventura tersebut hanyalah perusahaan cangkang atau shell company seperti dalam kasus Panama dan Pandora Papers," ujar Bhima Yudistira, dalam keterangannya, Kamis (10/2/2022).

Sebelumnya, beberapa waktu publik sempat dihebohkan dengan perusahaan rintisan yang disuntik sebesar Rp 99 miliar oleh perusahaan Singapura yang bernama Alpha JWC Ventures dan disuntik dana Rp 92 miliar oleh perusahaan Singapura lainnya yang bernama Walker Strategic Investment untuk membeli saham sebuah perusahaan frozen food. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved