Selasa, 7 April 2026

CERITA di Balik Dodol Cina yang Identik dengan Perayaan Imlek

Hari raya Imlek selalu tersedianya dodol Cina. Lalu, apa sebenarnya sejarah dibalik dodol Cina tersebut.

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar/Irvan Maulana
Dodol Cina buatan Ci Pikong. 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, KARAWANG - Hari raya Imlek selalu tersedianya dodol Cina. Lalu, apa sebenarnya sejarah dibalik dodol Cina tersebut.

Salah satu Locu Vihara Bio Kwan Tee Koen, yang berlokasi di Jalam Tuparev, Kabupaten Karawang, Koh Wawan menjelaskan, dodol Cina atau kue keranjang merupakan panganan khas wajib yang tersedia setiap perayaan Imlek.

"Sebenarnya dikatakan wajib, kita tida mewajibkan, tapi umat akan membawa kue keranjang (dodol Cina) itu setiap berangkat ke vihara atau untuk persediaan di rumah," ujar Koh Wawan saat ditemui tengah melayani umat, Senin (31/1/2022).

Ia mengungkap sejarah di balik dodol Cina tersebut. Dulu, kata dia, dodol Cina merupakan makanan yang jadi bekal tentara pada zaman perang.

Baca juga: Imlek 2022 Harus Waspada di Tahun Macan Air, Sifatnya yang Serakah Memungkinkan Konflik Politik

"Dulu dodol Cina atau kue keranjang adalah makanan yang jadi bekal prajurit, karena dianggap makanam yang mengenyangkan walalu dimakan sedikit," kata dia.

Selain itu dodol Cina juga dapat bertahan lama hingga bertahun-tahun.

"Selain mengenyangkan walau dimakan sedikit, dodol Cina juga dapat bertahan lama. Bahkan dodol Cina diidentikan dengan keberuntungan," ungkapnya.

Dikatakan Koh Wawan, selain mengandung makna sejarah tersebut, dodol Cina juga merupakan ciri khas perayaan Imlek dan Cap Go dan Meh.

"Kalau Imlek itukan ciri khas nya yang manis-manis, karena Imlek juga menyambut sukacita," kata Koh Wawan.

Baca juga: Macam-macam Pantun Ucapan Tahun Baru Imlek 2022, Cocok Diupdate di Medsos Facebook hingga WhatsApp

Ia memaparkan, dodol Cina juga dianalogikan sebagai gambaran kehidupan, bahwa hidup itu tak selalu berjalan mulus atau manis, kadang juga bermasalah atau asam.

Dodol Cina juga dianggap sebagai budaya leluhur masyarakat penganut Budha, karena dodol China punya ke khasan tersendiri dibanding dodol yang lain.

"Dodol Cina itu punya ciri khas tersendiri, dari segi rasa, tekstur dan cara pembuatan dibanding dodol lain. Misalnya dodol Garut, itu berbeda karena dodol Garut tak mampu bertahan lama seperti dodol China," kata dia.

Lebih lanjut diterangkan Koh Wawan, membuat dodol Cina termasuk dalam momen sakral.

"Percaya atau tidak, kalau yang membuat dodol Cina itu dalam keadaan menstruasi, pasti gak akan jadi. Karena membuat dodol Cina juga termasuk momen sakral," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved