Breaking News:

Tanoto Foundation dan Poltekesos Bandung Serah Terima Capaian Kerjasama Program Pencegahan Stunting

Bertepatan dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember 2021, Tanoto Foundation dan Poltekesos Bandung melakukan acara serah terima capaian kerjasama

poltekepos
Direktur Poltekesos Dr Marjuki MSc (kanan) dan Head of ECED Tanoto Foundation Eddy Henry (kiri) 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Kasus stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita di Indonesia menjadi perhatian banyak pihak. Dari data di lapangan, prevelensi stunting di Indonesia masih sangat tinggi sampai saat ini.  Terlebih kasusnya di sejumlah daerah terbilang masih cukup banyak, termasuk di Jawa Barat.

Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi yang berulang, dan simulasi psikososial yang tidak memadai. Jika seorang anak memiliki tinggi badan lebih dari -2 standar deviasi median pertumbuhan anak yang telah ditetapkan oleh WHO, maka bisa dikatakan anak tersebut mengalami stunting.

Masalah stunting di Indonesia memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, prevelensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Artinya, sekitar satu dari empat anak balita (lebih dari delapan juta anak) di Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%.

Karena itu, stunting adalah masalah Nasional yang berkaitan dengan kualitas Sumber Daya Manusia, sehingga menjadi sangat penting untuk dicegah dan ditangani secepatnya.
Masalah stunting bukanlah masalah kesehatan dan gizi semata, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak balita, diantaranya adalah perilaku masyarakat yang berkaitan dengan pola asuh, pola makan dan kesehatan lingkungan.

Oleh karena sifatnya yang multidimensional tersebut, maka penanganan untuk pencegahan dan pengurangan stunting tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi semua pemangku kepentingan yang lain seperti masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media juga mempunyai peran yang sangat penting, sehingga target percepatan penurunan prevalensi stunting yang ditetapkan 14% pada tahun 2024 akan tercapai.

Salah satu upaya untuk percepatan penurunan prevalensi stunting diperlukan perubahan perilaku masyarakat ke arah yang positif.

Dalam upaya perubahan perilaku tersebut, salah satu pemangku kepentingan adalah Perguruan Tinggi dengan para Akademisi yang mampu memahami masalah secara utuh, baik teoritis maupun praktis.

Perguruan tinggi yang memiliki kewajiban menyelenggarakan Tri Dharma bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat merupakan pemangku kepentingan yang strategis dalam upaya perubahan perilaku pencegahan stunting.

Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang Pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.

Melanjutkan komitmen tersebut, sejak tahun 2020, Tanoto Foundation dan Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung bekerja sama dalam mengembangkan modul perubahan perilaku pencegahan stunting berdasarkan hasil penelitian dan bertujuan diterapkan melalui fungsi pendidikan dan pengabdian masyarakat. Kerjasama dengan Poltekesos telah menghasilkan kurikulum, panduan pelaksanaan praktikum pekerja sosial, modul pengabdian masyarakat, serta model Aksi Pengubahan Perilaku Cegah Stunting (Aksi Hanting).

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved