Apa Itu Saraf Kejepit Akibat HNP, dan Bagaimana Pengobatan Terbarunya
Nyeri pada bagian punggung bawah, di bagian tulang ekor leher dan bahu merupakan tanda Hernia Necleus Pulposus, atau dikenal dengan syaraf kejepit
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tribunners, pernahkan anda merasakan nyeri pada bagian punggung bawah, di bagian tulang ekor, atau di bagian leher dan bahu yang menjalar ke lengan, disertai kesemutan, dan terkadang kita harus membungkuk untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan tersebut. Ternyata gejala-gejala tersebut merupakan tanda dari Hernia Necleus Pulposus (HNP), atau umumnya dikenal dengan sebutan syarap kejepit.
Dokter spesialis Orthopedi Rumah Sakit Santosa Kopo, Bandung dr. Abdul Kadir Hadar, Sp.OT(K) Spine menjelaskan, HNP adalah keluarnya isi dari bantalan sendi tulang belakang, sehingga menyebabkan jepitan pada saraf yang berada di ruang saraf di tulang belakang.
Kondisi HNP, terbagi dalam beberapa kategori diantaranya, ada yang masih bulging atau menonjol kecil, protruded, extruded dan sequester atau sudah terpisah isi bantalan dari tempat asalnya dan biasanya memberikan gejala yang cukup berat.
"Gejala yang ditimbulkan HNP, dapat berupa nyeri lokal disekitar tempat bantalan sendi tulang belakang yang bermasalah, bisa dileher, punggung ataupun pinggang, kesemutan, dan nyeri menjalar ke kedua betis hingga ke kaki yang dapat mengenai kedua sisi atau salah satu sisi," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Minggu (12/12/2021)
Bila kondisi ini terjadi di leher, gejala yang ditimbulkan adalah nyeri yang menjalar ke bahu lengan atau tangan, kesemutan. Bahkan bila berlangsung lama, dapat menimbulkan kelemahan dari fungsi tangan atau kaki.
Terkadang pasien harus membungkuk untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan, dan berjalan tidak normal akibat nyeri.
dr. Abdul mengatakan, penyebab HNP dapat bermacam faktornya. Namun, penyebab paling sering adalah, proses yang bertahap karena penuaan atau degenerasi dari diskus, sehingga bantalan menjadi tidak lentur dan tidak fleksibel.
Maka, bila melakukan beberapa gerakan, seperti memutar, mengangkat berat, atau akibat trauma jatuh dari ketinggian atau trauma langsung di leher atau pinggang, menyebabkan bantalan menjadi robek dan isinya keluar dan menekan saraf.
"Selain itu, faktor lainnya adalah kondisi berat bedan berlebih atau obesitas. Hal ini dapat mem-berikan beban ke bantalan sendi menjadi lebih berat terutama di pinggang bagian bawah. Kemudian, faktor genetik. Ada beberapa orang memiliki genetik yang dapat menimbulkan diskus menjadi gampang sekali robek," ucapnya.
Kemudian, faktor rutinitas kegiatan dan kebiasaan misalnya, orang dengan pekerjaan tertentu yang dilakukan sehari-hari dalam jangka lama, seperti mengangkat beban berat memiliki resiko yang sangat besar, dapat berpotensi mengalami HNP.
Selain itu, perokok juga termasuk dalam kategori yang berpotensi rentan mengalami resiko tersebut. Bahkan, dalam beberapa hasil riset penelitian terbaru, kebiasaan merokok dapat menimbulkan terjadinya degenerasi dari diskus lebih dini, dan menyebabkan diskus menjadi kurang fleksibel dan mudah robek.
dr. Abdul juga menuturkan, gejala HNP tidak hanya berpotensi menyerang usia lanjut, namun juga terjadi pada usia 30-50 tahun. Namun, menurut beberapa literatur, usia 30-an menjadi paling dominan berpotensi.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran usia terjadinya HNP ini, dan faktor pekerjaan tetap mendominasi penyebab terjadinya. Meskipun, pada beberapa kasus juga ditemukan pada usia 20-an.
Namun hal tersebut, cukup jarang terjadi dan biasanya diduga akibat faktor genetik seperti, kelainan dari kolagen yang merupakan struktur dari pembentukan bantalan tulang belakang.
Lalu, apakah HNP ini bisa dicegah atau diantisipasi, dr. Abdul mengatakan, kondisi HNP dapat dicegah dengan beberapa cara yaitu, melakukan olahraga secara teratur, seperti gerakan melatih penguatan otot-otot tulang belakang, sebagai otot utama penyangga dan penyeimbang.
Hal ini tentunya akan memberikan dampak, beban ke bantalan menjadi berkurang dan memberikan keuntungan bantalan sendi tulang belakang agar tidak mudah mengalami proses degeneratif dan robek.
Selanjutnya, menjaga postur duduk yang baik. Hal ini akan berdampak mengurangi beban pada tulang belakang dan diskus.
"Dengan menjaga postur duduk yang baik, dapat menjaga pinggang tetap lordotik dan lurus saat duduk dalam jangka waktu lama. Kemudiaan upaya pencegahan lainnya adalah, mengangkat beban berat dengan kekuatan tungkai bukan pinggang, saat berkerja, lalu menjaga berat badan agar tidak berlebih, serta berhenti merokok," ujarnya.
Terkait, cara penyembuhan HNP, menurutnya, tidak semua kondisi HNP memerlukan tindakan operasi. Hanya kurang lebih 30 persen yang membutuhkan operasi.
Bahkan, dengan metode terapi obat-obatan, fisioterapi rutin, mengurangi berat badan, dan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, dapat menghilangkan gejala yang ditimbulkan.
Akan tetapi bila gejala tersebut menetap dalam waktu 6 -8 minggu, dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti MRI untuk melihat seberapa berat penekanan saraf akibat bantalan yang menekan tersebut.
"Bila penekanan ke sarafnya masih ringan ataupun sedang, dapat dilanjutkan fisioterapi dan obat-obatan. Di tahap ini dapat juga dilakukan blok saraf atau bantalan untuk menghentikan penyebab nyeri yang ditimbulkan," ucapnya.
Begitu juga, bila pasien merasakan nyeri, namun tidak sampai menjalar ke kaki, maka dapat dilakukan PLDD (percutaneus Laser Disc Decompresion), dengan tujuan menghilangkan sumber nyeri dan mengecilkan penekanan yang ditimbulkan oleh bantalan terhadap saraf.
Sedangkan, bila kategori berat dan menimbulkan nyeri menjalar ke paha, betis atau kaki, maka penanganannya dapat dilakukan metode minimal invasive spine atau endoscopic spine disectomy.
Metode ini memiliki waktu perawatan yang singkat, biasanya 1-2 hari, meminimalisasi pendarahan, tetap mempertahankan strukturstruktur penting tulang belakang, dan setelah operasi, pasien dapat langsung beraktifitas kembali.
"Invasive spine atau endoscopic spine disectomy merupakan metode terbaru dalam menyelesaikan HNP, dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi," ucapnya.
Ia menambahkan, seluruh metode penyembuhan di atas sudah dapat dilakukan di Rumah Sakit Santosa Kopo Bandung. Bahkan, dalam sepekan 10-15 pasien yang memiliki keluhan nyeri pinggang seperti ini melakukan konsultasi pada dokter di Poli Orthopaedi Spine di RS. Santosa Kopo Bandung.
"Tentunya, pasien diwajibkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan bagian Orthopaedi Spine, guna menilai apakah penyebab nyeri, disebabkan oleh HNP atau sakit pinggang lainnya. Sehingga pemilihan metode penanganan pasien dapat berjalan efektif, dan pasien dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik," katanya. (Cipta Permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/abdul-kadir-hadar.jpg)