Kades Kalah di Purwakarta Akhirnya Bongkar Tembok Akses Wisatawan ke Curug Tilu, Dipandu Dedi

Akses menuju destinasi wisata Curug Tilu, Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, sudah dibuka kembali.

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Irvan Maulana
Dedi Mulyadi saat memandu pembongkaran tembok dan kawat berduri yang memblokir akses menuju destinasi wisata Curug Tilu di Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Kabar terkini akses menuju destinasi wisata Curug Tilu, Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, yang sempat diblokir mantan kades yang kalah, sudah dibuka kembali.

Sebelumnya, akses itu dipagar dengan tembok dan kawat berduri.

Ketika ditemui Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi, Sultan Mahdum menjelaskan bahwa yang ditutup bukan akses menuju lokasi wisata.

Dia hanya menutup akses menuju lahan ke kebun miliknya.

Namun kebetulan lokasi kebun berada tepat di samping destinasi wisata Curug Tilu.

Dikutip dari unggahan video kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada Minggu (12/12/2021), akses menuju lokasi wisata tersebut sudah dicek sebelumnya oleh Dedi.

"Tidak ada akses jalan tang ditutup, yang ada adalah kases jalan menuju hutan, sebab itu tanah pribadi," ujar Dedi melusurkan pemberitaan.

Lebih lanjut, Mahdum menceritakan awal mula pembukaan destinasi wisata tersebut sempat diwarnai konflik serupa, karena pemilik tanah yang merupakan orang Karawang tak ingin lahannya dilalui.

"Dulu juga sama sempat ditutup, karcis masuk itu di atas (gerbang) diminta, di bawah (lahan pribadi) diminta, tapi saya musyawarah dengan pemilik tanah, sampai akhirnya saya membeli tanah miliknya," ujar Mahdum.

Lantas, Dedi Mulyadi menawarkan solusi agar destinasi wisata Curug Tilu dikelola oleh manajeman tersendiri antara pemilik lahan dan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta.

"Gimana kalau begini, kerja samanya sama Dinas Pariwisata, pakai manajeman tersendiri, nanti saung-saungnya kita tata. Tidak lagi dikelola oleh lembaga lain, jadi kerja samanya Pak Sultan, Dinas Pariwisata sama Perhutani, dan Dinas tidak akan mendapat apa pun, hanya mendorong regulasi ekonomi agar tukang warung laku," papar Dedi.

Lantas, Dedi mengajak Kades Sultan untuk membongkar tembok yang dibangunnya.

"Sekarang mah buka dulu temboknya supaya simbolis, bahwa sudah tidak ada masalah," ucapnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved