Cuaca Ekstrem Bikin Petani di Lembang Gagal Panen, Pasokan ke Pedagang pun Minim

Cabai yang siap dipanen para petani itu banyak yang busuk dan pohonnya juga rusak akibat terus diguyur hujan deras

Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Petani di Lembang saat memetik cabai yang sudah busuk. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Cuaca ekstrem yang hingga kini kerap melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyebabkan sejumlah petani cabai rawit di daerah Kecamatan Lembang, mengalami gagal panen.

Cabai yang siap dipanen para petani itu banyak yang busuk dan pohonnya juga rusak akibat terus diguyur hujan deras, sehingga petani pun hanya bisa pasrah dengan kondisi tersebut.

Petani asal Desa Suntenjaya Yayan, (47) mengatakan, pada musim hujan banyak penyakit yang menyerang tanaman, terutama cabai sehingga menyebabkan buahnya cepat busuk, sehingga kondisi ini membuat para petani mengalami kerugian.

"Iya gagal panen tapi tidak semua, jadi hanya cabai yang mestinya dipanen tidak sebanyak yang diharapkan," ujar Yayan di lahan pertaniannya daerah Lembang, KBB, Jumat (10/12/2021).

Baca juga: Warga KBB Jadi Korban Mafia Tanah Lapor Jokowi, SHM Tiba-tiba Beralih Jadi Milik Orang Lain

Jika dalam kondisi normal, Yayan mengaku bisa panen cabai mencapai satu kuintal, sedangkan akibat cuaca ekstrem seperti saat ini, hasil panennya menurun drastis menjadi 20 kilogram.

Kendati demikian, Yayan pun tidak bisa menyiasati rusaknya tanaman dengan pemberian obat hama karena harga pestisida pun mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.

"Setiap kali panen, biaya perawatan yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Obat semakin mahal, naik 100 persen, enggak terbeli," katanya.

Menurutnya, dengan kondisi harga pestisida yang mahal, membuat Yayan pun jarang membelinya untuk merawat tanaman cabai tersebut, sehingga hal ini menyebabkan cabai lebih gampang terserang hama.

"Jadi, lebih banyak cabai yang busuk dibanding yang bagus," ucap Yayan.

Dengan kondisi seperti itu, Yayan pun lebih memilih membiarkan tanamannya busuk di kebun. Namun, dia belum bisa memprediksi kapan kondisi ini akan kembali normal, sebab cuaca buruk diperkirakan masih akan berlangsung cukup lama.

"Tetapi kalau harga pupuk dan obat bisa turun, panen dan harga cabai pasti iku stabil. Kebanyakan kan disini petani kecil, enggak ada biaya buat beli pestisidanya," katanya.

Pedagang sayuran, Idris (55) mengatakan, akibat banyak petani yang gagal panen, menyebabkan pasokan cabai rawit dari petani ke pedagang di pasar menjadi sangat minim.

"Harga cabai rawit merah yang semula dijual Rp 50 ribu naik menjadi Rp 80 ribu perkilogram. Kenaikannya bertahap, sekali naik bisa sampai Rp 10 ribu untuk cabai rawit merah. Kira-kira kenaikannya sudah sekitar seminggu ke belakang," ucap Idris.

Baca juga: Memasuki Musim Hujan Harga Cabai Ijo Melambung Hingga 3 Kali Lipat, Petani Memilih Panen Dini

Ia mengatakan, penyebab kenaikan harga cabai tersebut karena pasokan dari sentra produksi berkurang akibat cuaca ektrem yang terjadi akhir-akhir ini. Dia memperkirakan harga cabai akan terus mengalami kenaikan, mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.

"Pasokan berkurang, jadi harganya ikut mahal. Diperkirakan akan terus naik, ditambah lagi sekarang mau menghadapi Natal dan Tahun Baru," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved