Breaking News:

Waspada Penyebab Terjadinya Batu Ginjal dan Inilah Cara Mengatasinya

Kurang minum air putih 1,2 liter per hari dan aktivitas yang minim mobilitas, beresiko terkena Batu saluran kemih atau dikenal sebagai batu ginjal

Dokter Spesialis Urologi RS. Santosa Kopo Bandung, dr. Anggana Suryatmana, Sp.U, M.Ked.Klin 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sobat Tribunners, tahukan anda kebiasaan kurang minum air putih 1,2 liter per hari dan aktivitas kegiatan sehari-hari yang minim mobilitas, hingga obesitas, termasuk dalam potensi bagi seseorang untuk mengalami faktor resiko gangguan kesehatan, berupa Batu saluran kemih atau dikenal sebagai batu ginjal.

Dokter Spesialis Urologi RS. Santosa Kopo Bandung, dr. Anggana Suryatmana, Sp.U, M.Ked.Klin menjelaskan bahwa gangguan kesehatan batu ginjal atau batu saluran kemih, merupakan terdapatnya proses kristalisasi berbagai mineral atau garam, dalam urin yang terdapat pada ginjal atau saluran kemih.
Selain di ginjal, batu juga dapat terbentuk di seluruh bagian saluran kemih, seperti : kandung kemih atau buli-buli, ureter (saluran yang menghubung-kan ginjal dan kandung kemih) dan uretra (saluran kemih bagian bawah).

"Batu saluran kemih yang terjadi pada pasien, juga diakibatkan karena adanya ketidakseimbangan komposisi urin seperti saat asupan carian kurang. Potensi resiko ini dapat meningkatkan apabila, pasien memiliki faktor resiko intrinsik atau bawaan/bakat dari dalam tubuh, maupun ekstrinsik atau pengaruh dari luar seperti lingkungan," ujarnya saat ditemui di RS. Santosa Kopo Bandung, Jumat (3/12/2021).

dr. Anggana mengatakan, yang dimaksud faktor resiko intrinsik adalah faktor bawaan atau bakat dari dalam tubuh tehadap terbentuknya batu saluran kemih.
Faktor ini, umumnya jenis kelamin laki-laki lebih rentan berpotensi dari pada perempuan. Sebab pada laki-laki, organ tubuh testosterone dapat meningkatkan produksi oksalat, sehingga rentan terhadap batu kalsium oksalat. Sebaliknya, wanita memiliki kadar sitrat urin lebih tinggi yang dapat menghambat pembentukan kalsium oksalat.

Kelainan seperti ginjal tapal kuda, ginjal polikistik, medullary sponge kidney, penyempitan/obstruksi saluran kemih, menyebabkan individu rentan mengalami batu ginjal.
Disamping itu, biasanya faktor intrinsik dipengaruhi oleh dimilikinya riwayat batu ginjal pada hubungan keluarga. Adanya kelainan bawaan dalam keluarga seperti, sistinuria dan renal tubular asidosis, dapat meningkatkan terjadinya batu ginjal.

Selain itu, terdapat gen-gen tertentu yang memang dapat meningkatkan risiko individu mengalami batu ginjal.
"Penyakit komorbid batu ginjal sering terjadi pada pasien dengan kondisi gangguan kesehatan berupa diabetes mellitus, obesitas, gout (asam urat), hiperpartiorid serta bila sering mengalami infeksi saluran kemih berulang. Beberapa penyakit saluran cerna juga dapat berkaitan dengan kejadian batu ginjal seperti penyakit Chron's, kondisi malabsorbsi, dan riwayat pemotongan sebagian saluran cerna," ucapnya.

Sedangkan, faktor risiko ekstrinsik adalah faktor dari luar tubuh atau lingkungan, dan bukan genetik, seperti lokasi tempat tinggal atau tempat kerja yang panas sehingga rentan dehidrasi. Akibatnya urin menjadi pekat.

Kemudian, asupan minum yang rendah kurang dari 1,2 liter per hari, mengkonsumsi makanan tinggi kadar oksalat, garam, dan zat purin, pola hidup yang kurang mobilisasi juga meningkatkan risiko terhadap batu ginjal, serta penggunaan obat-obatan tertentu seperti suplemen kalsium, vitamin C dosis tinggi melebihi dari dosis rekomendasi harian.
"Kemungkinan seseorang mengalami batu ginjal dalam hidup adalah sebesar 5-10 persen, dan sebagian besar dari penderita akan mengalami batu ginjal secara berulang. Batu ginjal terjadi paling banyak pada usia 20-49 tahun dan jarang terjadi pada anak-anak maupun dewasa muda," ucapnya.

Gejala yang timbul saat seseorang mengalami gangguan kesehatan batu ginjal atau batu saluran kemih, biasanya, nyeri hebat pada daerah pinggang yang tidak membaik dengan perubahan posisi, dan dapat disertai penjalaran ke daerah perut sampai selangkangan.
Selain itu, dapat juga dirasakan, nyeri tumpul pada daerah pinggang, nyeri saat buang air kecil, keinginan mual dan atau muntah secara signifikan, demam, dan darah dalam urin tampak merah muda atau merah.

Meskipun pada kondisi batu ginjal berukuran kecil dan kemungkinan besar, sebenarnya akan keluar bersama air seni, namun biasanya dokter anda dapat meresepkan obat untuk memudahkan proses ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved