Breaking News:

Kasus Ilegal Akses Database Kependudukan untuk Kartu Prakerja, Ternyata Ini Awal Mulanya

Awal mula jajaran kepolisian Polda Jabar sampai dapat mengungkap kasus ilegal akses data base kependudukan yang digunakan untuk membuat kartu prakerj

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar, Kombes Arif Rachman 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ditreskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Arif Rachman menjelaskan awal mula jajaran kepolisian Polda Jabar sampai dapat mengungkap kasus ilegal akses data base kependudukan yang digunakan untuk membuat kartu prakerja fiktif yang merupakan program pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional.

Menurut Arif, kasus ini berawal dari adanya patroli siber tim Ditreskrimsus Polda Jabar yang melihat adanya dugaan terjadinya pemalsuan kartu prakerja. Program kartu prakerja ini memang program yang anggarannya fantastis sehingga, katanya menjadi penyelidikan tim siber.

Baca juga: Kebakaran Gedung Cyber 1, Dewabiz Pastikan Data Server Aman, Dua Siswa Taruna Bakti Jadi Korban

"Kami coba lampirkan mapping dan tracing dan menemukanlah satu titik di Kota Bandung. Di sana ada empat orang tersangka yang tengah melakukan kegiatan ilegal ini. Setelah kami amankan keempatnya, ternyata pelaku utamanya ada di luar pulau, maka kami mengejarnya dan selama tiga hari bisa tertangkap dengan inisial BY," katanya, di Mapolda Jabar, Senin (6/12/2021).

Pengambilan data ini, lanjutnya, dilakukan secara random sehingga dia menegaskan data-data itu bukanlah dari server Dukcapil. Langkah selanjutnya, Arif menyebut pihaknya tengah melakukan pendataan aset-aset yang bisa dijadikan barang bukti tambahan.

Baca juga: Kota Bandung Paling Informatif dalam Pelayanan Informasi Publik Termasuk Soal Covid-19

"Tentunya kami mengimbau kepada masyarakat untuk bijaklah dalam bermedia sosial. Kami semua harus menjadi agen penyebar infornasi yang baik," katanya.

Direktur IT Siber Dukcapil pada Kemendagri, Erikson menambahkan bahwa para pelaku ini terlebih dahulu memang mendalami sistem dari program itu dan mereka mengumpulkan NIK dengan cara random. Mereka mempelajari konsep NIK, seperti mempelajari enam digit kode wilayah dan menyusun target kriteria NIK yang dicetak dengan mengambil nomor urut belakangnya untuk digunakan.

"Polanya itu mereka mencoba mengakses portal BPJS Ketenagakerjaan. Dari portal itu ada sebanyak 322.350 data valid dari 12.401.328 data untuk dipakai pendaftaran kartu prakerja," ujarnya.

Temuan lainnya ternyata para pelaku melakukan pencetakan KTP yang bukan berbentuk blanko melainkan file JPEG yang terlebih dahulu lewat scan gunakan photoshop. Ketika disinggung terkait lulusan atau background dari para pelaku, Kombes Pol Arif menjawab bahwa para pelaku merupakan lulusan dari Sekolah Tinggi Teknologi di Samarinda dan secara otodidak membuat produk IT untuk mengkreasikannya.

Erikson juga menambahkan para pelaku memang sejak 2019 mempelajari pengetahuan sistem secara telaten hingga pada akhirnya menkreasikan sistem dan mencari celah untuk menguji kebenaran atau kevalidan NIK tersebut.

"Jadi, secara sistem itu yang bersangkutan (pelaku) paham dan memang telaten melakukan kegiatan ini," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved