Banyak Lembaga Penyiaran Masih Menyiarkan Konten Tak Ramah dan Berbahaya bagi Anak dan Perempuan

ejumlah lembaga penyiaran, baik radio maupun televisi di Tanah Air ternyata masih menyiarkan konten-konten yang tak ramah bagi anak dan perempuan

Editor: Arief Permadi
TANGKAPAN LAYAR
Roni Tabroni M.Si, Koordinator Bidang Kelembagaan Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat (paling kanan), dalam seminar hibrid Literasi Media Lembaga Penyiaran Ramah Anak dan Perempuan, yang digagas KPID Jabar bersama Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB) di kampus UMB, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Kamis (3/12/2021). 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.ID- Sejumlah lembaga penyiaran, baik radio maupun televisi di Tanah Air ternyata masih nakal, menyiarkan konten-konten yang bukan saja tak ramah bagi anak dan perempuan, tapi juga berbahaya bagi mereka.

Sepanjang Januari hingga Novembaer 2021 saja tercatat setidaknya 54 konten siaran yang masuk dalam kategori tersebut.

"Itu baru di Jawa Barat saja. Jumlahnya tentu bisa lebih banyak jika kita menghitungnya dalam skala nasional," ujar Roni Tabroni M.Si, Koordinator Bidang Kelembagaan Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, dalam seminar hibid Literasi Media Lembaga Penyiaran Ramah Anak dan Perempuan, yang digagas KPID Jabar bersama Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB) di kampus UMB, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Kamis (3/12/2021).

Mayoritas pelanggaran tersebut, kata Roni, melibatkan tayangan sinetron dan infotainment di televisi.

"Salah satunya, seperti yang terjadi belum lama ini, saat sejumlah media televisi terus menayangkan berita anak seorang artis, yang kedua orang tuanya baru saja meninggal. Mulai dari kondisinya, hak asuhnya, hak warisnya, dan lain-lain. Ini yang kemudian kita sebut sebagai komodifikasi anak, yang tentu saja seharusnya tak dilakukan oleh media," ujarnya.

Pelanggaran yang terkait anak dan perempuan dalam sinetron, ujar Roni, juga tak kalah banyaknya.

"Ada sejumlah stasiun televisi yang kami peringatkan karena menayangkan sinetron yang tidak ramah perempuan dan anak. Mulai dari perselingkuhan, perceraian, permasalahan rumah tangga, dan konten-konten dewasa," ujarnya sambil menyebut sejumlah sinetron yang ia maksud beserta stasiun televisinya.

Hal senada diungkapkan, Resti Ernawati, MS.i, dosen Ilmu Komunikasi UMB, yang menjadi pembicara lainnya.

Menurut Resti, perhatian media massa terhadap hak-hak anak dan perempuan memang masih terbilang kurang. Namun, ujarnya, hal itu bisa dipahami karena para jurnalis yang ada saat ini mayoritas adalah laki-laki.

United Nations Foundations, ujar Resti, mencatat hanya 24 persen dari pekerja media adalah perempuan. Jumlah yang tak jauh beda juga diungkap The International Women's Media Foundations (The IMWF). Menurut mereka, dari semua pekerja media, baik itu reporter, scrriptwritwer, maupun editor, hanya 34 persen di antaranya yang perempuan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved