Survei KPPU, Perizinan Investasi di Jabar Lambat dan Modal Harus Tinggi

Lambatnya perizininan investasi di Jabar menjadi salah satu kendala pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Nazmi Abdulrahman
Ketua KPPU Kanwil III Jabar, DKI Jakarta dan Banten, Lina Rosmiati di Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lambatnya perizinan investasi di Jabar menjadi salah satu kendala pengusaha yang ingin mengembangkan usahanya.

Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah (Kanwil) III Jabar, DKI Jakarta dan Banten, Lina Rosmiati mengatakan, hal itu diketahui setelah dilakukan survei indeks persaingan usaha.

"Terdapat hambatan untuk memasuki pasar di Jabar, karena masalah perizinan yang lambat dan permodalan," ujar Lina, di kantor KPPU Jabar, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, Kamis (2/12/2021).

Selain itu, kata dia, dari survei tersebut diketahui ada kendala lainnya yakni nilai
atau modal yang harus dikeluarkan investor di Jabar relatif tinggi.

Baca juga: Divonis Bebas, Valencya Merasa Tenang dan Lega, Ingin Istirahat dan Berlibur Bersama Anak-Anak

"Jadi, perusahaan yang ingin investasi izin cenderung lama. Kedua, modal yang dikeluarkan itu banyak entah perbandingan dengan masuk ke daerah lain atau tidak. Hanya saja, ini gambaran masuk permodalan jadi salah satu isu investasi," katanya.

Ia tidak menyebutkan berapa nilai minimal bagi investor agar dapat berinvestasi di Jabar.

"Jadi, ukuran besar tidaknya itu tidak diketahui, tapi kita sama-sama tahu kalau DKI Jakarta dan Jabar memang daerah premium investasi," ucapnya.

KPPU melakukan survei di Jabar dengan mengambil sample dari 34 provinsi. Koresponden dalam survei tersebut mulai dari Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan tiap provinsi, Kadin tiap provinsi, kantor Perwakilan Bank BI tiap provinsi dan akademisi lokal.

Baca juga: Diduga Terlibat Investasi Bodong dan Memperdaya 13 Korban, Ibu Rumah Tangga di Tasik Diciduk Polisi 

"Pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka dan tertutup tentang indeks persaingan usaha di tiga wilayah," katanya.

Dari hasil survei itu, indeks persaingan usaha di Jabar pada 2021 mengalami kenaikan dibanding tahun lalu.

Kenaikanya dari 5.07 menjadi 5.24. Sedangkan DKI Jakarta mengalami penurunan dari 5.53 pada 2020 menjadi 5.48 pada 2021. Pun demikian dengan Banten, turun dari 4.93 menjadi 4.81 di 2021.

Di Jabar, sektor persaingan usaha tinggi berada di industri pengolahan, perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, pertanian, kehutanan dan perikanan.

Di Jakarta, sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, informasi dan Komunikasi serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Sedangkan di wilayah Banten, sektor paling tinggi yakni perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, industri pengolahan dan penyediaan akomodasi, makan dan minum.

Ada empat poin kenapa sektor paling tinggi itu muncul. Pertama, jumlah pelaku usaha (pemasok) banyak, relatif rendahnya hambatan masuk industri atau pasar, relatif rendahnya konsentrasi pasar dan banyaknya varian produk dalam sektor tersebut.

"Ini menghasilkan perilaku industri yang sehat dan kinerja pasar yang baik," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved