Momen Hari Guru, Masih Ada Guru yang Telat Mendapatkan Honor, Ruang Kelas Pun Terancam Ambruk

Sebuah sekolah di wilayah Garut selatan terancam ambruk, kondisi bangunannya sudah tidak layak untuk digunakan kegiatan belajar mengajar.

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Darajat Arianto
Dok Mts Darul Munajjah
Suasana belajar di Mts Darul Munajjah, Kampung Mekarsari, Desa Sukanagara, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Jawa Barat. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Sebuah sekolah di wilayah Garut selatan terancam ambruk, kondisi bangunannya sudah tidak layak untuk digunakan kegiatan belajar mengajar.

Sekolah tersebut bernama Madrasah Tsanawiyah Darul Munajjah yang berada di Kampung Mekarsari, Desa Sukanagara, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kepala Sekolah MTs Darul Munajjah, Supyan, mengatakan sekolahnya tersebut berdiri sejak tahun 2010 dengan dana swadaya dari masyarakat sekitar.

Namun sejak pertama kalinya berdiri sekolah tersebut menurutnya belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah.

"Sekolah ini didirikan oleh masyarakat tiga dusun, dengan dana seadanya, hingga saat ini belum menerima bantuan dari pemerintah, proposal dan pengajuan dana lain-lain tidak ada yang masuk," ujar Supyan saat diwawancarai Tribunjabar.id via telepon, Kamis (25/11/2021).

Supyan menjelaskan dengan modal swadaya dari masyarakat sekolahnya itu hingga kini masih bisa bertahan.

Namun menurutnya masyarakat khawatir dengan keadaan bangunan yang terlihat rapuh dan membahayakan para siswa, jika hujan turun pun sudah pasti air dengan mudahnya masuk ke dalam kelas karena banyaknya atap yang bocor.

"Kadang jika hujan atau angin kencang, kegiatan belajar kami pindahkan ke ruang guru atau diberhentikan dulu atau dipulangkan," ucapnya.

Dengan bangunan semi permanen yang terdapat sejumlah kerusakan dan kebocoran, tidak sedikit juga masyarakat yang mencemoohkan sekolah tersebut.

Bahkan menurutnya ada yang sampai mengatakan sekolah yang memiliki tiga kelas itu sebagai kadang ayam sangking sudah tidak layak digunakan untuk belajar.

"Kita punya tiga kelas dan satu kantor guru yang itu pun belum rampung pengerjaannya, kelas yang hampir roboh itu sering disebut kandang ayam," ucapnya.

Selain bangunan sekolah yang tidak layak untuk digunakan sebagai tempat belajar mengajar, guru-gurunya pun, menurutnya, sering telat mendapatkan honor bulanan.

Honor yang diterima tenaga pengajar kadang telat tiga sampai enam bulan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved