Breaking News:

Dituding Maling Getah Pinus di Hutan Negara di Sumedang, Masyarakat Satu Desa Penyadap Marah Besar

Pemerintah Desa Jaya Mekar, Kecamatan Cibugel, Sumedang marah setelah membaca pemberitaan salah satu media online yang tendensius kepada masyarakat

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Darajat Arianto
Dok Warga
Sejumlah warga Desa Jaya Mekar, Kecamatan Cibugel, Sumedang melakukan audensi dengan BKSDA Jawa Barat, Kamis (25/11/2021). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pemerintah Desa Jaya Mekar, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang marah setelah membaca pemberitaan salah satu media online yang tendensius kepada masyarakat desa tersebut. 

Pemerintah Desa dan masyarakat yang bermata pencaharian penyadap getah pinus dituding oleh media lokal sebagai pencuri.

Tak tanggung, tudingan itu mengatakan bahwa akibat aktivitas masyarakat desa, negara telah kehilangan ratusan miliar rupiah.  

Kepala Desa Jayamekar, Kecamatan Cibugel, Idi Kusnadi mengatakan bahwa di Jayamekar ada dua kelompok tani hutan (KTH) Cibubut dan Simpay Wargi. 

"Tidak ada permasalahan legal-formal yang dilanggar oleh KTH. Sebab, masing-masing mengantongi izin berupa perjanjian kerja sama (PKS) dengan BKSDA yang PKS-nya itu masih berlaku," kata Idi Kusnadi kepada TribunJabar.id di Sumedang, Kamis (25/11/2021). 

Idi mengatakan, ada yang mempermasalahkan soal struktur pengurus KTH yang berubah.

Menurutnya, perubahan pada struktur pengurus KTH adalah sebuah keharusan karena salah seorang Ketua KTH meninggal dunia dan perlu diganti posisinya dengan mengadakan musyawarah. 

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Jaya Mekar, kata Rizki, permasalahan pemberitaan itu memunculkan surat dari BKSDA yang melarang warga menyadap getah. 

Padahal, semua tudingan itu tanpa data dan fakta.

Media tersebut, kata Rizki, bahwa aktivitas warga menyadap getah adalah aktivitas pencurian. 

"Sudah saya kontak wartawannya untuk membuktikan data dan fakta, eh, dia malah tidak menjawab kecuali hanya memberikan nomor narasumber yang dia wawancarai," kata Rizki di Sumedang. 

Dia mengatakan, di Desanya, dia siap membuktikan bahwa aktivitas menyadap getah adalah legal dan BKSDA sendiri yang memberikan izinnya.

"Kami menunggu iktikad baik dari mereka, " katanya.  (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved