Breaking News:

Harga Cikur di Tingkat Petani Bergerak Naik, Kencur Biasa untuk Bumbu Dapur dan Obat Herbal

Di Desa Werasari, katanya, ada 6 penampung atau bandar cikur, yang sehari-hari menampung cikur dari petani lalu menjualnya hingga ke Bandung

Penulis: Andri M Dani | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Tribun Jabar/Andri M Dani
Petani di Desa Werasari, Kecamatan Sadananya, tidak hanya menaman cikur atau kencur di kebun. Kini, ada juga dikembangkan menanam cikur di polibag seperti jahe dan juga di pot serta kotak kayu. Werasari merupakan sentra produksi cikur (kencur) di Ciamis. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS– Harga umbi cikur bergerak naik (kaempferia galanga) di tingkat petani di sentra produksi cikur (kencur) di Desa Werasari, Kecamatan Sadananya, Ciamis.

Harga cikur diawal masa pandemi 2020 sempat jatuh sampai ke angka Rp 10.000/kg.

“Dua bulan lalu masih Rp 12.000/kg, sekarang sudah di kisaran Rp 15.000/kg. Itu di tingkat petani. Kalau di pasar eceran tentu beda lagi,” ujar Juju (54) ,petani cikur di Dusun Jontor RT 05/03, Desa Werasari, kepada Tribun, Rabu (24/11/2021).

Menurut Juju, Desa Werasari merupakan sentra produksi cikur (kencur) di Kecamatan Sadananya bahkan di Kabupaten Ciamis.

Hampir di setiap rumah dan kebun warga, ada tanaman cikur, terutama di Dusun Jontor dan Dusun Cikupa.  

Benih cikur siap tanam di Desa Werasari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (24/11/2021).
Benih cikur siap tanam di Desa Werasari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (24/11/2021). (Tribun Jabar/Andri M Dani)

Baca juga: Manfaat Beras Kencur Bagi Tubuh, Kurangi Pegal Linu hingga Tambah Stamina

Biasa tanaman cikur ditumpangsarikan dengan tanaman jagung, kacang tanah (suuk) maupun singkong.

“Pertama jagung dulu panen, setelah itu kacang tanah, serta singkong. Terakhir pada tahun kedua baru panen cikur. Hampir semua warga di Jontor menanam cikur. Tidak hanya kebutuhan sendiri terutama juga untuk dijual," katanya.

Di Desa Werasari, katanya, ada 6 penampung atau bandar cikur, yang sehari-hari menampung cikur dari petani kemudian menjualnya ke pasar di Garut, Tasikmalaya, Banjar, Kuningan, Cirebon hingga Bandung.

 “Umumnya untuk bumbu dapur dan juga kebutuhan tukang jamu  gendong,” ujar Juju.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved