Jumat, 15 Mei 2026

Uniknya Angklung Dog-dog Lojor di Kasepuhan Sinar Resmi, Tak Ada Nada Doremi tapi Tetap Merdu

Pada umumnya Angklung memiliki nada multitonal (bernada ganda). Namun tidak di Kasepuhan Sinar Resmi

Tayang:
Penulis: M RIZAL JALALUDIN | Editor: Ravianto
m rizal jalaludin/tribun jabar
Angklung Dog-dog Lojor di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tinggi angklung ini 1 meter bahkan ada yang lebih. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia, tepatnya berasal dari Jawa Barat.

Pada umumnya Angklung memiliki nada multitonal (bernada ganda). Namun, di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berbeda.

Perbedaan pertama dari namanya, di Kasepuhan Sinar Resmi Angklung ini disebut Angklung Dog-dog Lojor. Kedua, ukurannya pun berbeda, di Kasepuhan ukuran Angklung teihat lebih besar, dimana memiliki tinggi sekitar 1 meter, bahkan ada yang lebih dari 1 meter dan dihiasai dedaunan yang disebut daun Seel.

Setiap ukuran Angklung Dog-dog Lojor Kasepuhan Sinar Resmi ini memiliki nama berbeda, ada yang disebut Gong-gong, Panempas, King-king dan Inclok.

Diketahui, Kasepuhan Sinar Resmi dipimpin oleh Abah Asep Nugraha. Ia mengatakan, Angklung Dog-dog Lojor ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Uniknya, ada waktu tertentu untuk pembuatan Angklung ini, yakni di bulan Maulid atau Rabiul Awal dan juga di hari Rebo Wakasan. Menurutnya, selain di hari-hari besar seperti Seren Taun, Angklung ini juga dipakai sebagai pengiring saat menanam padi.

"Di sini disebutnya Angklung Dog-dog Lojor, disebut Dog-dog Lojor itu karena Dog-dognya panjang, jadi ini kesenian sudah ada sejak dulu. Jadi kalau ada menanam padi itu diiringi dengan Dog-dog Lojor. Dimana-mana mau tanam padi, panen, mipit harus diiringi Dog-dog Lojor yang memang Angklung keturunan dari Karuhun," ujarnya, Rabu (17/11/2021).

"Bahannya diambil dari alam yaitu bambu, tapi gak semua jenis bambu bisa dibuat Dog-dog Lojor atau Angklung, bambu hitam bisa yang seperti ini, bambu tali bisa, malah kalau yang disebut Awi Leuweung (bambu hutan) itu lebih bagus, lebih bagus suaranya lebih keras dan lebih halus," ucapnya.

Ia mengatakan, Angklung ini tidak memiliki nada Doremi, tapi saat dimainkan suaranya tidak kalah merdu dengan Angklung biasa.

"Kalau mengayunkannya, memainkannya sama kaya Angklung pada umumnya, cuma di sini gak punya nada Do Re Fa So La Si Do saja, namanya itu ada Gong-gong, Panempas, King-king dan Inclok," jelasnya.

Mendengar adanya kesenian tradisional Angklung Dog-dog Lojor, Agus Ramdhan, Ketua umum Dunia Bambu Sukabumi
(DBS) mendatangi Kasepuhan Sinar Resmi dan langsung mencoba memainkannya bertepatan pada hari Angklung Internasional, Selasa (16/11/2021) kemarin.

Ia mengatakan, selaku organisasi yang berkecimpung di bidang bambu akan berupaya melestarikan dan memperkenalkan kepada dunia tentang Angklung itu. Terlebih, Kasepuhan Sinar Resmi masuk dalam Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGG) atau lebih dikenal Geopark Ciletuh.

"Ini di Kasepuhan Sinar Resmi ada Angklung Dog-dog Lojor, ternyata ini sudah ratusan tahun dan masuk dalam kawasan Geopark Ciletuh. Kepedulian dari DBS ingin melestarikan supaya kelestarian tradisional ini supaya tidak punah. Dan Angklung di Sinarresmi dengan Angklung di tempat lain itu berbeda, di sini tidak ada nada Doremi, di sini mengandung syarat makna," kata Agus.

"Kaitan mengembangkan kita dari DBS sangat konsen karena ini juga mayoritas semua terbuatnya dari Awi (Bambu), seperti Abah katakan bahwa zaman dulu itu perlu yang namanya hiburan, perlu kesenian. Namun tidak seperti zaman modern sekarang bisa ada saksofon, piano, cuma kembali ke alam adanya bambu, jadi memanfaatkan yang ada supaya ada nadanya keluar," ucapnya.

Mendengar niat baik DBS, Abah Asep pun sangat mengapresiasi dan mendukung langkah yang akan dilakukan DBS.

"Bagus sekali, mengapresiasi, jadi masih ada yang peduli kepada kesenian karuhunan, kesenian keturunan, kenyataannya memang kesenian-kesenian yang diturunkan leluhur kita harus dirumat, dirawat, diruwat," timpal Abah Asep.* (M Rizal Jalaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved