UT Wujudkan Sumber Daya Manusia Unggul Berbudaya

UNIVERSITAS Terbuka (UT) Bandung mengadakan kegiatan seminar akademik bertemakan 'Mewujudkan SDM Unggul Berbudaya di Era Digital', melalui virtual, Ju

UNIVERSITAS Terbuka (UT) Bandung mengadakan kegiatan seminar akademik bertemakan 'Mewujudkan SDM Unggul Berbudaya di Era Digital', melalui virtual, Jumat (12/11). 

TRIBUNJABAR.ID,UNIVERSITAS Terbuka (UT) Bandung mengadakan kegiatan seminar akademik bertemakan 'Mewujudkan SDM Unggul Berbudaya di Era Digital', melalui virtual, Jumat (12/11).

Pemateri dalam seminar ini adalah Bupati Majalengka Karna Sobahi diwakili Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Majalengka Momon Abdurrahman, dan mantan anggota DPR RI Popong Otje Djundjunan (Ceu Popong).

Acara Seminar diawali dengan sambutan dari Direktur UT Bandung. Direktur UT Bandung Bapak Drs. Enceng M.Si, menyatakan tantangan ke depan akan semakin berat dan kompleks, sehingga UT mempersiapkan penciptaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, salah satunya dengan berfokus pada pembangunan SDM, serta terus berupaya berpartisipasi mendukung program-program pemerintah di era digital.

"Kami tidak hanya fokus pada pengetahuan tapi di semua aspek, di antaranya kompetensi SDM kami perhatikan dengan baik dari skill sampai attitude. Kami coba bekali mahasiswa termasuk lulusan pada tiga hal itu," kata Enceng.

"Proses belajar di seluruh program studi di UT sudah mengadopsi teknologi informasi komunikasi (TIK) terkini di dalam semua kurikulum, baik tingkat diploma, sarjana, maupun magister," kata Enceng

"Bahan Ajar ajar di UT sudah didesain agar bisa dipelajari baik secara konvensional maupun digital. Bahan ajar di semua prodi di UT disiapkan selain tercetak juga disiapkan digitalnya. Kami tanamkan satu filosofi kepada para mahasiswa dan lulusan terkait kemandirian. Sebab, kemandirian ini kunci keberhasilan individu juga kelompok," katanya.

Kabid GTK pada Disdik Majalengka Momon pun mengakui bahwa tantangan akan semakin berat. Bahkan, menurut Momon, saat ini dunia berubah ke suatu kondisi yang sulit diprediksi. Berdasarkan hasil penelitian, ujar Momon, secara global akan hilang sekitar 1 miliar pekerjaan mulai 2015-2025.

"Sekitar 65 persen di masa depan itu murid SD di seluruh dunia akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada di hari ini," ujar Momon.

Era saat ini, kata Momon, SDM harus unggul lantaran Indonesia memiliki target menjadi bangsa yang maju karena ada persaingan global dan tantangan perubahan yang sulit dikendalikan. Menurutnya, untuk mencetak SDM unggul perlu beberapa ukuran, yakni profesional, produktif, inovatif, mampu bersaing, dan berkepribadian Pancasila.

"Perlu infrastruktur TIK, perubahan konten kurikulum, sertifikasi kompentensi, dan kolaborasi industri, serta semangat kewirausahaan. Intinya, tiga hal semacam pengetahuan, skill, dan karakter harus dimiliki," katanya.

Ceu Popong pun menekankan bahwa SDM unggul berbudaya di era digital itu mesti dihadirkan sejak manusia masih berada di dalam rahim sang ibu. Sebab, untuk menciptakan manusia atau SDM unggul, ujar Ceu Popong, tidak dapat dihadirkan secara instan, melainkan berproses.

"Jangan mimpi bisa menjadi manusia unggul, jika masih berpikir bisa secara instan. Sebab, harus berlangsung dari golden age (masa emas) usia 0 hingga 5 tahun. Jadi, sarjana atau durjana bergantung pada ibu dan bapaknya," katanya.

Menciptakan SDM unggul, ujar Ceu Popong, menyebutkan perlu melalui tiga tahapan pendidikan, yakni keluarga, sekolah (formal), dan pendidikan masyarakat. Ketiganya, ujar dia, dapat dibedakan namun sulit untuk dipisahkan. Ketiganya saling terkait satu sama lainnya.

"Masa taman kanak-kanak itu bukanlan pendidikan formal melainkan hampir sama dengan lingkungan keluarga. TK di kita sangat berbeda dengan di negara lain. Namanya juga taman, tapi mereka dipaksa belajar membaca, menulis, dan menghitung. Itu keliru sebab di negara lain enggak ada. Harusnya untuk calistung (membaca, menulis, dan berhitung) dipaksakannya di SD, sehingga itu sebabnya banyak trauma melihat buku dan minat baca rendah," ujar Ceu Popong seraya mengatakan Indonesia minat baca posisi 60 dari 62 negara.

Untuk menjadi unggul, ujar Ceu Popong, harus perbanyak membaca, melihat, mendengar, dan bertanya. Selanjutnya, ketika di jenjang SD, anak perlu ditanamkan terkait pengetahuan, keterampilan, dan wawasan.

"Orang tua juga harus ketahui apa bakat yang dimiliki anaknya itu agar nanti bisa diarahkan pada bakatnya. Peran orang tua sangatlah penting, selain peranan guru, kepsek, kadisdik, hingga mendikbud melalui program yang tepat. Sebab, moral dan mental harus merupakan program kerja Kemendikbud secara makro," ucapnya.(adv/nandri prilatama)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved