Breaking News:

Ribuan Anak Balita di Ciamis Alami Stunting, Gara-gara Kekurangan Gizi Kronis

Ada ribuan balita di Ciamis yang mengalami stunting. Gara-gara kekurangan gizi.

Penulis: Andri M Dani | Editor: taufik ismail
diskes.jabarprov.go.id
Ilustrasi: Stunting 

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Dalam lima tahun terakhir ribuan anak balita di Ciamis mengalami stunting. Pertumbuhan tinggi tubuhnya tidak normal, lebih pendek dari anak balita seusianya.

Pada tahun 2016 tercatat ada 6.326 anak balita di Ciamis yang mengalami stunting akibat kekurangan gizi secara kronis (gizi buruk).

Tahun berikutnya, 2017 angka stunting di Ciamis sebanyak 5.305 anak balita.

Tahun 2018 (4.802 kasus), tahun 2019 (4.814 kasus) dan tahun 2020 ada 4.773 kasus stunting ditemukan di Tatar Galuh Ciamis.

“Selama lima tahun terakhir ada penurunan angka kasus stunting di Ciamis,” ujar Kabid Promkes Dinkes Ciamis, dr Hj Eni Rochaeni kepada Tribun Kamis (11/11/2021).

Selama masa pandemi ini tahun 2020, angka stunting di Ciamis katanya juga berkurang.

Adanya ribuan kasus stunting tersebut menurut dr Eni terjaring dari kegiatan timbang balita yang diselenggarakan oleh 1.603 posyandu yang tersebar di 258 desa dan 7 kelurahan di 37 wilayah kerja puskesmas di 27 kecamatan di Ciamis.

Sebanyak 1.603 posyandu dengan melibatkan 11.364 kader tersebut rutin tiap bulan melakukan kegiatan timbang badan balita di lingkungan RW masing-masing.

Stunting akibat kekurangan gizi kronis akan melahirkan anak cebol dengan kecerdasan yang rendah.

Kasus stunting katanya merupakan muara berbagai masalah, tidak hanya masalah kesehatan. Tapi juga masalah sektor lainnya.

“Intervensi yang dilakukan bidang kesehatan hanya 30 persen,” katanya.

Sedangkan 70 persen  lainnya, intervensi dari bidang dinas lainnya . Seperti sektor ketersediaan pangan yang bergizi oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Peternakan dan Perikanan dengan program gemar makan ikannya (Gemari), DPRKPLH dengan program kebersihan lingkungan dan sanitasi, Dinas Pendidikan, Dinas KB dan Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (penggunaan dana desa untuk peningkatan gizi masyarakat), serta dinas lainnya, termasuk Bapeda.

“Penanganan stunting adalah program menyeluruh. Tidak hanya persoalan kesehatan semata. Termasuk penanganan kemiskinan,” ujar dr Hj Eni.

Dan sebagian besar dari ribuan anak balita penderita stunting tersebut umumnya dari keluarga miskin yang sulit untuk  mendapatkan pangan yang bergizi serta rendahnya pengetahuan tentang gizi.

Baca juga: Pendalaman Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dalam Percepatan Pencegahan Stunting di Pandeglang

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved