Breaking News:

Jangan Lupa Mampir ke Museum Ini Kalau ke Purwakarta, Seperti Berada di Tahun 1930-an

Bale Indung Rahayu Purwakarta merupakan museum sejarah yang dikemas dengan teknologi digital berisi sejarah tatar sunda dan sejarah Purwakarta

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Irvan Maulana
petugas museum saat menjadi pemandu museum Bale Indung Rahayu, Jumat (29/10/2021). 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Museum tak selalu memiliki kesan yang membosankan. Seiring perkembangan zaman, museum juga berinovasi untuk menyedot wisatawan seperti halnya menggabungkan teknologi dan kebudayaan seperti yang terdapat di Museum Bale Indung Rahayu.

Sekertaris Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta Heri Anwar mengatakan, di Purwakarta terdapat empat museum digital yang dapat dikunjungi, yaitu Bale Panyawangan Diorama Purwakarta, Bale Panyawangan Diorama Nusantara, Bale Indung Rahayu dan Galeri Wayang dan semuanya berlokasi di pusat Kota Purwakarta.

"Keempat museum itu dibangun sebagai edukasi dan daya tarik wisata sekaligus memberikan pengetahuan baru tentang sejarah pada kehidupan pada zaman dulu sebelum kemerdekaan," ujar Heri, ketika ditemui di Bale Indung Rahayu, Jalan RE Martadinata, Jumat (29/10/2021).

Baca juga: Pembangunan Museum Gua Pawon di Cipatat Bandung Barat Bakal Segera Terwujud, Ini Jadwalnya

Bale Indung Rahayu Purwakarta merupakan museum sejarah yang dikemas dengan teknologi digital berisi sejarah tatar sunda dan sejarah Purwakarta dari masa ke masa.

Museum yang ditata dengan estetika dengan teknologi digital tersebut menceritakan perjalanan hidup manusia dari mulai dalam kandungan sampai akhir hayat.

"Museum ini juga menjelaskan peran seorang ibu yang penuh dengan pengorbanan merawat anak dengan ada istiadat dan budaya Sunda," kata dia.

Di dalam ruangan tersebut terdapat banyak gambar, miniatur yang menceritakan kisah. Dimulai dengan cerita, nyanyian (pupuh) Sunda yang sering mengiringi seorang ibu ketika hamil hingga melahirkan.

Selain itu, di dalam museum juga berisi miniatur dan permainan anak khas Sunda tempo dulu, seperti congklak, kelom batok, galah bandung, dan lainnya.

"Selain permainan, ada juga ruangan khusus untuk yang menceritakan tentang tradisi menyimpan tabungan gabah di lumbung atau leuit," imbuhnya.

Baca juga: Museum Geologi Siapkan Pengaturan Pengunjung, Sementara Tak Terima dari Luar Bandung Raya

Ruangan tersebut juga dihiasi berbagai sensor untuk mengaktifkan suara latar belakang dengan audio yang cukup apik.

"Kita sengaja buat ruangan dengan sensor audio, agar pengunjung bisa benar-benar merasa seperti di keadaan tempo dulu," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved