Breaking News:

Orangtua Korban Perampasan Nyawa di Purwakarta oleh Oknum TNI AL Minta Putusan Hakim Lebihi Tuntutan

Enam oknum TNI AL pelaku perampasan nyawa Fransiscus Manalu warga Purwakarta diadili di Pengadilan Militer Bandung. Oknum TNI AL dituntut 10 tahun

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Mega Nugraha
Jonisah Pandapotan Manalu, orangtua korban Fransiskus Manalu, korban perampasan nyawa oleh oknum TNI AL di Purwakarta, menunjukan foto para pelaku, Jumat (22/10/2021) 

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG- Enam oknum TNI AL pelaku perampasan nyawa Fransiscus Manalu warga Purwakarta diadili di Pengadilan Militer Bandung. Persidangan sudah memasuki sidang tuntutan dari Oditur Militer.

Dalam sidang tuntutan di Pengadilan Militer Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Bandung pada Kamis (21/10/2021) itu, oditur militer menuntut enam oknum TNI AL itu dengan tuntutan pidana penjara 10 tahun karena terbukti melakukan tindak pidana perampasan nyawa sebagaimana diatur di Pasal 338 KUH Pidana.

Selain tuntutan hukuman penjara 10 tahun, para oknum TNI AL itupun dihukum pemecatan.

Baca juga: Warga Purwakarta Diringkus, Bantu Oknum Prajurit TNI AL Aniaya Pencuri Mobil Hingga Tewas

Menanggapi tuntutan 10 tahun untuk pelaku perampasan nyawa dengan sadis itu, orangtua Fransiskus Manalu, Jonisah Pandapotan Manalu menilai tuntutan oditur militer atau jaksa militer kurang memenuhi rasa keadilan,

"Dengan tuntutan itu, jujur saya katakan, saya pribadi sebagai orang tua dari almarhum maupun keluarga langsung berontak karena tuntutan tersebut menurut kami kurang berkeadilan," ucap Jonisah Pandapotan Manalu di Bandung, Jumat (22/10/2021).

Dalam dakwaan oditur militer, enam terdakwa oknum TNI AL itu didakwa Pasal 340 tentang pembunuhan berencana pada dakwaan primer, lalu Pasal 338 KUH Pidana tentang pembunuhan dan Pasal 351 KUH Pidana tentang penganiayaan mengakibatkan matinya seseorang.

Di persidangan ternyata Pasal 340 tentang pembunuhan berencana yang ancaman hukuman maksimalnya pidana mati dianggap tidak terbukti sehingga oditur militer menggunakan Pasal 338 KUH Pidana yang ancamannya 15 tahun penjara.

Joni menyoroti pasal yang digunakan Oditur Militer saat menuntut enam terdakwa. Menurut Joni, pasal seharusnya para terdakwa dikenakan Pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana bukan Pasal 338 KUHPidana.

"Kalau di Pasl 338 berarti terjadi penganiayaan spontan, atau di salah satu tempat. Sementara anak kami dijemput dari tempat usahanya menggunakan mobil lalu dibawa ke satu tempat, dianiaya dan akhirnya meninggal.  Jadi menurut kami sangat terpenuhi Pasal 340-nya. Nah sementara dituntut kemarin pasal pokok 338 dituntut hanya 10 tahun penjara," tutur dia.

Sidang selanjutnya sendiri akan mengagendakan pembelaan dari terdakwa untuk kemudian berlanjut pada sidang putusan. Joni berharap putusan hakim nanti bisa melebihi dari tuntutan jaksa. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved