Breaking News:

Tak Hanya Menghambat Laju Perahu, Hamparan Eceng Gondok Juga Hambat Ekonomi Masyarakat Jatilluhur

Tak hanya mengambat perahu dan transportasi air di Waduk Jatiluhur, hamparan eceng gondok juga menghambat ekonomi masyarakat

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Irvan Maulana
hamparan eceng gondok di waduk jatiluhur kabupaten purwakarta, Selasa (19/10/2021). 

Laporan Kontributor Tribun Jabar Irvan Maulana

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Tak hanya mengambat perahu dan transportasi air di Waduk Jatiluhur, hamparan eceng gondok juga menghambat ekonomi masyarakat yang bergantung pada aktivitas wisata dan perikanan di waduk Jatiluhur.

Keluh kesah itu diceritakan Samad (50) salah seorang nakhoda perahu jukung yang kesehariannya mencari nafkah sebagi nakhoda perahu antar jemput wisatawan dan jasa antar jemput ikan dari kolam jaring apung ke demaga Serpis Jatiluhur.

"Kalau saya cuma punya perahu bisanya ya cari duit di perahu, paling antar wisatawan atau pemancing kalau lagi panen narik ikan ke dermaga," ujar Samad ketika ditemui Tribun di Dermaga Serpis Waduk Jatiluhur, Rabu (20/10/2021).

Baca juga: Persoalan Eceng Gondok di Waduk Jatiluhur Belum Usai, Terjebak Eceng di Danau Jadi Masalah Harian

Samad menceritakan, sejak pandemi Covid-19 berlangsung aktivitas wisata terhambat ia sudah tak lagi merasakan manisnya mencari peruntungan sebagai nakhoda perahu jukung.

"Dulu sebelum ada corona, bisa dibilang nakhoda perahu itu masih enak, sehari saya bisa 2 rit, kadang 3 rit, karena banyak mereka yang sekedar keliling atau wisata di kolam jaring apung tengah danau," kata dia sembari mengayam jaring ikan.

Untuk jasa satu kali antar penumpang itu bernilai variatif tergantung jumlah rombongan, jika perahu bermuatan full sebanyaj 12 orang, jasa antar dibaderol Rp 250 ribu, tapi jika rombongan berjumlah dibawah 10 orang jasa antar dibanderol Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.

"Muatan perahu itu sebenarnya bisa 17 orang, tapi kita tetap harus patuh aturan kalau muatan maksimal 13 orang termasuk nakhoda, sebab yang 12 orang itu sudah dijamin juga oleh asurasi, kita juga gak berani bawa penumpang tanpa jaminan asuransi," ucap Samad.

jika di rata-rata sebelum pandemi, Samad bisa berlayar dua kali dalam sehari, penghasilannya rata-rata Rp 500 ribu dalam sehari, jumlah tersebut belum dipotong biaya bahan bakar perahu, "Kalau bahan bakar rata-rata habis 12 liter, kadang cuma 5 liter, tergantung jauh dekat," imbuhnya.

pengasilan bersih Samad dal sehari kurang lebih berjumlah Rp 350 ribu dalam sehari, dengan uang tersebut ia mampu mencukupi kebutuhan keluarga termasuk biaya sekolah sang anak, namun berbanding sepi semasa pandemi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved