Breaking News:

Pelarangan Susur Sungai Setelah Tragedi MTs Harapan Baru Dipertanyakan, ''Kenapa Harus Dilarang?''

KPS-Pedalgas mempertanyakan langkah pelarangan kegiatan susur sungai setelah tragedi meninggalnya 11 siswa MTs Harapan Baru Cijantung.

Penulis: Andri M Dani | Editor: Giri
Dok. Adpim Jabar
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil meninjau lokasi meninggalnya 11 santri saat kegiatan susur sungai di Sungai Cileueur, Dusun Wetan Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Sabtu (16/10/2021). 

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Komunitas Peduli Sungai–Paguyuban Peduli Alam dan Lingkungan Galuh Asri (KPS-Pedalgas) mempertanyakan langkah pelarangan kegiatan susur sungai setelah tragedi meninggalnya 11 siswa MTs Harapan Baru Cijantung di Leuwi Ili Sungai Cileueur.

Mereka meninggal setelah tenggelam dalam kegiatan yang berlangsung Jumat (15/10/2021) sore.

Setelah kejadian itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan melarang kegiatan susur sungai.

“Kenapa harus dilarang? Peristiwa susur sungai yang membawa korban tidak seharusnya disikapi dengan menjauhkan siapa pun dari sungai,” ujar Noer JM, Ketua KPS-Pedalgas kepada Tribun, Senin (18/10/2021).

Bagaimanapun juga menurut Noer, sungai bagai urat nadi yang menopang kehidupan.

Sungai mengirim air dari mata air di pegunungan dan limpasan hujan dari hulu hingga hilir.

“Susur sungai merupakan salah satu bentuk kegiatan menarik, menantang, dan berorientasi ke alam,” katanya.

Meskipun begitu, ungkap Noer, setiap kegiatan susur sungai harus dengan persiapan yang matang.

Tidak boleh dilakukan sembarangan.

Kegiatan susur sungai tentunya dengan standar keselamatan, dengan perhitungan medan dan cuaca.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved